Di peta perdagangan otomotif global, Timur Tengah bukan sekadar pasar “bonus”. Bagi banyak pabrikan Asia, kawasan Teluk adalah ladang penjualan bernilai miliaran dolar, dan rute logistik paling sensitifnya berputar di satu titik sempit: Selat Hormuz.
Ketika tensi konflik meningkat, dampaknya tidak hanya terasa pada harga minyak. Pengiriman kendaraan—mulai dari mobil penumpang hingga SUV besar—berisiko tersendat, karena kapal-kapal pengangkut menimbang ulang keamanan perjalanan dan biaya asuransi melonjak.
China saat ini menjadi pemain paling agresif. Data 2025 menunjukkan total ekspor kendaraan dari perusahaan-perusahaan China mencapai 8,32 juta unit. Dari jumlah itu, sekitar 1,39 juta unit—kira-kira seperenam—mengalir ke negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Nama-nama seperti Chery, BYD, SAIC, Changan, dan Geely ikut mendorong gelombang besar ini, membuat merek China makin familiar di jalanan kawasan Teluk.
Menariknya, “Jejak China” juga terlihat lewat pabrikan lain yang memproduksi di China. Beberapa studi industri menempatkan model hasil joint venture yang berbasis di China ikut masuk daftar eksportir utama menuju Timur Tengah, memperlihatkan bagaimana rantai pasok lintas negara kini sulit dipisahkan.
India punya pola berbeda: bukan soal volume unit yang mencolok, melainkan nilai ekspor yang besar. Sepanjang 2025, India mengekspor mobil senilai sekitar 8,8 miliar dolar AS dan sekitar seperempatnya masuk ke Timur Tengah, terutama Arab Saudi. Banyak produk yang keluar dari India berasal dari pabrikan Jepang dan Korea yang membangun basis produksi untuk mengoptimalkan biaya perakitan serta ongkos logistik.
Sejumlah merek memiliki tingkat ketergantungan yang nyata pada pasar Teluk. Hyundai misalnya, disebut mengirim porsi besar ekspor global pabrik India ke negara-negara Teluk. Toyota juga tercatat menyalurkan sebagian besar nilai ekspornya dari India ke kawasan yang sama. Artinya, gangguan di jalur Hormuz akan memukul lebih dari satu bendera merek.
Korea Selatan juga tidak bisa dianggap kecil. Nilai ekspor mobil Korea pada 2025 mencapai rekor 72 miliar dolar AS, dengan sekitar 5,3 miliar dolar AS mengarah ke Timur Tengah—tumbuh dibanding tahun sebelumnya. Untuk Hyundai dan Kia, kawasan Timur Tengah-Afrika menyumbang sekitar 8% dari penjualan grosir global mereka, angka yang cukup besar untuk memengaruhi strategi produksi.
Dari Jepang, Toyota memberi gambaran paling mudah dibaca: pada 2025, perusahaan mengekspor 320.699 kendaraan dari Jepang ke Timur Tengah, naik 5,4% dan menyumbang lebih dari 15% dari total ekspornya yang melampaui 2 juta unit. Namun, risiko logistik membuat proyeksi produksi untuk pasar Timur Tengah bisa dipangkas puluhan ribu unit jika situasi memburuk.
Kesimpulannya sederhana: jika Selat Hormuz terganggu, efek dominonya bisa menjalar dari jadwal kapal, stok dealer, hingga harga jual di showroom. Di kawasan yang sangat bergantung pada impor kendaraan, “macet” di laut bisa berubah menjadi “macet” di pasar.






