Pasar saham Hong Kong dilanda aksi jual pada sektor kendaraan listrik China setelah laporan penjualan Januari menunjukkan pelemahan yang cukup tajam. BYD menjadi emiten yang paling disorot, memimpin penurunan harga saham di tengah kekhawatiran investor bahwa permintaan mobil listrik di pasar domestik mulai mendingin.
Pada sesi perdagangan awal Februari, saham BYD sempat merosot hingga sekitar lima persen, menjadi penurunan terdalam dalam tiga bulan terakhir. Tekanan ini muncul setelah perusahaan melaporkan penjualan Januari 2026 yang turun sekitar 30 persen secara tahunan. Sentimen negatif tersebut dengan cepat menular ke produsen kendaraan listrik China lainnya yang tercatat di bursa.
Saham Xpeng dan Nio masing-masing terkoreksi lebih dari enam persen, menyusul laporan kinerja penjualan yang juga tidak memenuhi ekspektasi pasar. Bahkan produsen otomotif yang lebih mapan seperti Geely ikut terdampak, meskipun mencatat volume penjualan yang relatif lebih tinggi, dengan sahamnya tetap melemah di kisaran dua persen lebih.
Analis menilai pelemahan penjualan pada Januari mencerminkan efek “penarikan permintaan” di akhir 2025. Berakhirnya berbagai subsidi kendaraan ramah lingkungan di tingkat lokal pada Desember lalu membuat konsumen mempercepat pembelian, sehingga permintaan pada awal tahun menjadi lebih tipis. Faktor tambahan berupa penerapan pajak pembelian kendaraan listrik baru sebesar lima persen juga dinilai membuat konsumen lebih berhati-hati, khususnya pada segmen menengah.
Dalam kondisi pasar domestik yang melunak, BYD dan produsen mobil listrik China lainnya semakin menggantungkan harapan pada ekspansi internasional. Analis Morgan Stanley mencatat ekspor kendaraan BYD pada Januari mengalami penurunan secara bulanan, yang diduga akibat pengiriman yang telah dimajukan ke akhir tahun sebelumnya. Meski demikian, strategi ekspansi global tetap dipandang sebagai kunci untuk menopang valuasi saham ke depan.
BYD sendiri menargetkan peningkatan signifikan pada penjualan luar negeri sepanjang 2026, dengan ambisi mengirimkan sekitar 1,3 juta unit ke pasar internasional, atau naik hampir 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, penjualan global BYD diproyeksikan menembus angka lima juta unit tahun ini, melampaui capaian 2025.
Meski tekanan jangka pendek membayangi saham-saham mobil listrik China, sejumlah analis menilai prospek pertumbuhan jangka panjang industri ini masih terbuka lebar. Fluktuasi saat ini dipandang lebih sebagai koreksi sementara, seiring penyesuaian pasar terhadap perubahan kebijakan dan siklus permintaan di industri otomotif terbesar dunia.






