Sungai Yamuna di India mengalami pencemaran berat yang berdampak pada pasokan air bagi jutaan warga New Delhi. Kondisi tersebut menyebabkan banyak penduduk harus bertahan dengan air berkualitas buruk atau mengalami kekurangan air bersih.
Ravinder Kumar, warga berusia 55 tahun yang tinggal di kawasan Sharma di barat laut New Delhi, setiap hari harus berjalan melewati lumpur hitam di sekitar rumahnya. Ia menyebut air hanya mengalir sekitar sekali setiap tiga hari dan itu pun hanya selama satu jam, sehingga aktivitas mandi dan kebutuhan harian menjadi sulit dipenuhi.
Krisis ini dipicu tingginya kadar amonia di Sungai Yamuna yang menyebabkan enam dari sembilan instalasi pengolahan air utama kota sempat ditutup. Departemen Pasokan Air dan Drainase New Delhi menyatakan sekitar 43 kawasan permukiman dengan total hampir dua juta penduduk terdampak kekurangan air.
Sejumlah asosiasi warga di sepuluh wilayah melaporkan mereka mengalami kekurangan air selama beberapa hari. Sebagian wilayah masih menerima air, tetapi tekanan distribusi menurun sehingga pasokan sangat terbatas.
Pemerintah menyebut pasokan air telah dipulihkan pada 24 Januari, namun beberapa warga pada awal pekan berikutnya masih mengaku belum mendapatkan aliran air yang stabil. Di kawasan Sharma, warga menggunakan cadangan air berwarna kekuningan dengan bau menyengat karena tidak ada pilihan lain.
Sungai Yamuna membentang sekitar 1.376 kilometer dari gletser Himalaya dan menjadi sumber air penting bagi New Delhi. Sungai tersebut menyuplai sekitar 40 persen kebutuhan air kota, tetapi selama beberapa dekade kualitasnya menurun akibat limbah industri dan air limbah yang tidak diolah.
Meskipun hanya sekitar dua persen aliran sungai melewati wilayah ibu kota, tingkat pencemaran di New Delhi termasuk paling tinggi. Kadar oksigen terlarut sering turun hingga nol sehingga mengganggu kehidupan organisme air dan mengubah sungai menjadi aliran berbau tidak sedap.
Lapisan busa putih serta endapan limbah industri terlihat menutupi sebagian permukaan sungai. Pada 25 Januari, para aktivis melakukan aksi pembersihan dengan mengangkat sampah plastik, pakaian bekas, dan berbagai benda lain dari sungai.
Urbanisasi yang berkembang tanpa perencanaan disebut turut memperparah krisis air. Banyak permukiman tidak memiliki jaringan pipa maupun sistem drainase memadai, sementara pengelolaan limbah yang lemah membuat pencemaran meresap ke sumber air tanah.
Di beberapa wilayah seperti Sharma, genangan air limbah bahkan merendam rumah warga selama berbulan-bulan. Kondisi tersebut menyebabkan gangguan kesehatan serta kesulitan memperoleh air bersih.
Dewan Air Delhi menyatakan sebagian kecil wilayah kota menghadapi masalah kualitas air, terutama akibat penggunaan pompa ilegal yang mempengaruhi tekanan distribusi. Pemerintah menyebut upaya pemulihan pasokan normal terus dilakukan.
Pemerintah India sebelumnya meluncurkan Rencana Aksi Yamuna pada 1993 untuk memperbaiki sistem pengolahan limbah. Namun setelah lebih dari tiga dekade, sejumlah ahli menilai sungai tersebut masih menghadapi pencemaran serius.
Pemerintah New Delhi menargetkan peningkatan kapasitas pengolahan limbah hingga hampir 5,7 juta meter kubik per hari serta pembangunan jaringan drainase di seluruh kawasan permukiman pada 2028. Sementara itu banyak warga masih bergantung pada bantuan tetangga untuk mendapatkan air minum.






