Pasar otomotif China mengawali 2026 dengan tekanan besar. Data yang beredar menyebut penjualan mobil domestik pada Januari turun 19,5% (year-on-year) menjadi sekitar 1,4 juta unit—penurunan terdalam sejak awal 2024 dan menjadi sinyal bahwa persaingan serta ketidakpastian permintaan masih kuat.
Yang mencolok, segmen kendaraan energi baru (NEV)—yang mencakup mobil listrik murni (BEV) dan plug-in hybrid (PHEV)—juga ikut tertekan. Angkanya disebut turun 22,9% pada bulan yang sama, padahal selama beberapa tahun terakhir NEV kerap menjadi “mesin” pertumbuhan pasar.
Sejumlah analis menilai fluktuasi penjualan awal tahun bisa dipengaruhi pola musiman, terutama karena pergeseran waktu libur Tahun Baru Imlek yang membuat permintaan cenderung maju atau mundur dibanding tahun sebelumnya. Namun, mereka juga menyoroti bahwa penurunan kali ini tetap menggambarkan kondisi pasar yang sedang menantang.
Faktor lain yang disebut berperan adalah perubahan kebijakan tukar tambah mobil lama ke mobil baru. Pemerintah dikabarkan memangkas subsidi untuk model berharga rendah—segmen yang volumenya besar—sehingga tekanan terhadap penjualan semakin terasa. Dengan kondisi seperti ini, sebagian perkiraan menilai pertumbuhan pasar 2026 berpotensi bergerak “datar” (tidak setinggi periode sebelumnya).
Di level produsen, tekanan permintaan mendorong strategi agresif: berbagai insentif, skema cicilan lebih panjang, hingga promosi tambahan untuk menarik konsumen yang sedang mengetatkan belanja. Dalam waktu bersamaan, pabrikan juga disebut menghadapi tuntutan regulasi keselamatan yang makin ketat, termasuk penyesuaian desain tertentu yang akan berlaku pada tahun-tahun mendatang.
Ketika pasar domestik melambat, beberapa produsen memperbesar harapan pada ekspor. NEV China dikabarkan mencatat laju ekspor yang meningkat tajam, sehingga menjadi penyangga saat permintaan dalam negeri melemah. Ke depan, peta persaingan diperkirakan makin bergeser ke strategi global dan efisiensi biaya.






