Program Waste-to-Energy (WtE) yang diprakarsai Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia resmi memasuki tahap tender. Tahap ini menjadi penanda bahwa proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik mulai bergerak dari konsep ke proses seleksi pengembang yang lebih konkret.
Dalam skema tender tersebut, sebanyak 24 perusahaan internasional berpengalaman dinyatakan lolos sebagai peserta. Seluruh peserta diwajibkan membentuk konsorsium, sehingga proyek diharapkan tidak hanya menghadirkan kontraktor, tetapi juga kombinasi kemampuan teknis, pendanaan, hingga kesiapan operasional.
Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, Fadli Rahman, menyampaikan bahwa desain tender sejak awal ditekankan pada tata kelola yang ketat. Ia menyebut pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) diarahkan transparan dan berbasis mitigasi risiko.
Menurut Fadli, konsorsium yang dibentuk peserta tidak semata memburu kontrak, tetapi juga diharapkan membawa transfer teknologi. Targetnya, perusahaan lokal maupun pemerintah daerah bisa mendapatkan peningkatan kapasitas dari sisi teknologi, manajemen, hingga praktik operasional pengolahan sampah yang lebih modern.
Pada tahap awal pengembangan, Danantara memfokuskan proyek WtE di empat lokasi: Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta. Pemilihan kota-kota ini diposisikan sebagai langkah pembuka untuk menunjukkan model kerja yang bisa direplikasi, sekaligus mengukur kesiapan ekosistem daerah dalam mendukung PSEL.
Dari daftar peserta, tiga nama global mendapat sorotan karena rekam jejak panjang di sektor lingkungan dan energi. Masing-masing mewakili Prancis, Cina, dan Jepang: Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd, China Conch Venture Holding Limited, serta Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering.
Veolia, yang berbasis di Singapura dan merupakan bagian dari grup multinasional asal Prancis, dikenal bergerak di pengelolaan air, limbah, dan energi dengan cakupan operasi puluhan negara. Di Indonesia, Veolia hadir melalui PT Veolia Services Indonesia dan disebut mengoperasikan pabrik daur ulang PET di Jawa Timur, termasuk produk PET food grade yang telah mengantongi sertifikasi halal.
China Conch Venture, yang bermarkas di Wuhu, Anhui, disebut berfokus pada pelestarian energi, perlindungan lingkungan, dan infrastruktur, serta tercatat di bursa Hong Kong. Segmen WtE menjadi bisnis inti mereka, termasuk solusi insinerasi limbah dan pemanfaatan energi sisa panas untuk listrik. Afiliasi Conch di Indonesia juga pernah mendapat penghargaan perpajakan dan disebut aktif melibatkan komunitas lokal di Kalimantan Selatan.
Sementara itu, Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering disebut memiliki portofolio proyek WtE berskala besar, salah satunya TuasOne di Singapura. Di Indonesia, teknologi Mitsubishi telah digunakan di TPST Bantargebang sejak 2019 untuk proyek pembangkit listrik tenaga sampah bersama PLN Nusantara Power, dengan pengolahan 100 ton sampah dan output listrik 750 kilowatt per jam untuk penerangan area sekitar.
Dengan banyaknya peserta dan tuntutan konsorsium, tender ini dipandang sebagai ajang uji tata kelola dan kesiapan ekosistem. Jika transfer teknologi berjalan dan proyek percontohan di empat kota berhasil, WtE Danantara berpotensi menjadi model pengolahan sampah yang lebih bernilai ekonomi sekaligus memperkuat layanan publik di daerah.






