Mate Rimac resmi mundur dari posisi Chief Executive Officer Rimac Automobili setelah memimpin perusahaan yang ia dirikan selama sekitar 17 tahun. Perubahan ini bukan terjadi karena akuisisi paksa atau konflik internal, melainkan langkah strategis yang disiapkan untuk mengatur ulang fokus kepemimpinan di dua merek besar yang kini ia tangani.
Walau tidak lagi menjadi CEO di Rimac Automobili, sosok pendiri asal Kroasia itu tetap memegang kendali arah besar perusahaan sebagai presiden sekaligus figur utama dalam keputusan strategis. Artinya, pengaruhnya tidak hilang; hanya pembagian perannya yang berubah agar lebih efektif.
Keputusan ini menegaskan bahwa Rimac sedang memasuki fase baru. Dari perusahaan rintisan teknologi kendaraan performa tinggi, Rimac kini berkembang menjadi pemain penting di industri hypercar dan sistem elektrifikasi. Pada tahap seperti ini, pengaturan ulang struktur manajemen menjadi hal yang lazim dilakukan untuk mempercepat eksekusi proyek.
Menggantikan Mate Rimac sebagai CEO adalah Nurdin Pitarevic, yang sebelumnya menjabat Chief Operating Officer (COO). Pergantian ini menunjukkan pilihan internal yang cenderung stabil karena perusahaan mempercayakan posisi puncak kepada orang yang sudah memahami ritme operasional, target teknologi, dan kultur kerja Rimac dari dalam.
Sementara itu, posisi COO yang ditinggalkan Pitarevic diisi oleh Marko Kikljacic, sebelumnya Wakil Direktur Operasi. Susunan ini memperlihatkan transisi yang relatif rapi: kursi-kursi kunci diisi oleh orang yang sudah dekat dengan proses bisnis perusahaan, sehingga risiko gangguan terhadap proyek berjalan dapat ditekan.
Fokus utama Mate Rimac kini diarahkan ke Bugatti, tempat ia telah memegang peran CEO sejak 2021. Peran ini semakin penting seiring transformasi Bugatti menuju era baru kendaraan performa tinggi dengan pendekatan teknologi yang lebih modern, termasuk integrasi solusi hibrida dan elektrifikasi yang sangat kompleks.
Rimac sendiri memasuki tahun 2026 dengan agenda yang tidak ringan. Perusahaan disebut tengah menyiapkan proyek supercar baru serta pengembangan teknologi baterai generasi berikutnya, termasuk solid-state, yang berpotensi menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang di sektor performa tinggi dan teknologi otomotif.
Bagi banyak pengamat, langkah Mate Rimac ini bukan mundur, melainkan reposisi. Ia tetap berada di pusat ekosistem yang dibangunnya, tetapi memilih mengalokasikan energi pada titik yang paling membutuhkan kepemimpinan visioner. Singkatnya, Rimac Automobili tetap ia arahkan, sementara Bugatti menjadi panggung utama fokus eksekusinya saat ini.
Dengan komposisi manajemen baru dan fokus ganda yang lebih jelas, baik Rimac maupun Bugatti berpeluang melaju lebih cepat. Jika transisi ini berjalan mulus, keputusan tersebut bisa menjadi contoh bagaimana pendiri perusahaan teknologi otomotif menjaga skala pertumbuhan tanpa kehilangan kendali atas visi awalnya.






