Persaingan teknologi pengisian energi kendaraan listrik di China memasuki babak yang semakin menarik. Dua pendekatan utama kini sama-sama digenjot, yakni sistem tukar baterai yang dipelopori Nio dan jaringan pengisian supercepat berdaya tinggi yang baru diperluas BYD. Meski jalurnya berbeda, keduanya mengarah pada tujuan serupa: memangkas waktu tunggu pengguna mobil listrik secara drastis.
Dalam pengumuman terbarunya, BYD memperkenalkan strategi pengembangan infrastruktur pengisian supercepat yang disebut “Flight China”, beriringan dengan peluncuran baterai Blade 2.0. Direktur umum komunikasi dan hubungan masyarakat BYD, Li Yunfei, menyebut perusahaan menargetkan pembangunan 20.000 stasiun pengisian cepat berkapasitas megawatt hingga akhir 2026.
BYD memandang pengisian supercepat dan pertukaran baterai sebagai dua pendekatan berbeda yang melayani target lebih besar, yaitu mempercepat adopsi transportasi listrik. Namun dari skala ekspansi, perusahaan tampak menempatkan pengisian berdaya tinggi sebagai solusi utama. Hingga 26 Maret 2026, BYD disebut telah mengoperasikan 4.239 stasiun Flash Charging dan ingin melonjak ke angka 20.000 titik dalam tahun yang sama.
Di sisi lain, model swap battery tetap memiliki posisi kuat di China. Nio menjadi salah satu pionir paling menonjol, dan kini berkolaborasi dengan CATL serta Aulton dalam membangun ekosistem pertukaran baterai. Secara gabungan, koalisi ini telah mengoperasikan 5.636 stasiun, dengan target meningkat menjadi 10.200 titik sebelum 2027.
Dari sisi kecepatan, sistem pertukaran baterai unggul karena mampu mengganti paket baterai penuh hanya dalam sekitar tiga menit. Namun BYD mengklaim teknologi Blade 2.0 dan Flash Charging miliknya juga mendekati kenyamanan serupa. Sistem itu dikatakan mampu mengisi kapasitas baterai dari 10 persen ke 70 persen dalam waktu lima menit, bahkan tetap bekerja pada suhu ekstrem minus 30 derajat Celsius dengan pengisian 20 persen hingga 97 persen dalam 12 menit.
Teknologi cepat saja belum cukup jika biaya infrastrukturnya membengkak. Karena itu BYD mengembangkan pendekatan “station cage”, yaitu menempatkan pilar pengisian supercepat di jaringan publik yang sudah tersedia. Daya dari grid sekitar 100 kW disimpan lebih dulu pada buffer baterai LFP di stasiun, lalu dilepaskan saat pengisian hingga 1.500 kW. Strategi ini diklaim bisa memangkas biaya investasi sampai 60 persen dibanding stasiun tegangan tinggi konvensional.
Sementara itu, model tukar baterai masih menghadapi tantangan keekonomian. Investasi Nio dalam infrastruktur pertukaran baterai disebut telah melampaui 18 miliar yuan. Sejumlah analis menilai satu stasiun swap idealnya melayani sekitar 60 pergantian per hari agar balik modal, sedangkan rata-rata saat ini masih berada di kisaran 35 kali per hari. Jadi, teknologinya impresif, tetapi dompet operatornya tetap perlu diajak bicara baik-baik.
Secara keseluruhan, China kini memperlihatkan dua jalur elektrifikasi yang berjalan bersamaan. Nio mempertahankan keunggulan pada kepemilikan jaringan swap untuk pelanggannya, sedangkan BYD menekan perluasan akses pengisian supercepat secara lebih luas. Dengan target bahwa 90 persen wilayah perkotaan China akan memiliki titik pengisian 1.500 kW dalam radius lima kilometer, persaingan ini bisa menjadi penentu model mana yang paling efektif untuk masa depan kendaraan listrik.






