Pasar mobil listrik di Amerika Serikat menunjukkan dua arah yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, penjualan mobil listrik baru pada Februari terlihat melemah. Di sisi lain, pasar mobil listrik bekas justru tumbuh cukup kuat. Situasi ini menciptakan gambaran yang unik, seolah konsumen masih tertarik pada kendaraan listrik, tetapi dengan pendekatan yang lebih berhitung.
Pada Februari, penjualan mobil listrik baru di AS tercatat mendekati 69.000 unit. Jumlah itu memang masih terlihat besar, tetapi turun sekitar 27 persen dibanding laporan awal 2026. Meski begitu, secara tahunan angka tersebut masih naik 5,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga perlambatan ini belum bisa dibaca sebagai penurunan total minat pasar.
Menurut laporan yang dikutip dari Carscoops dan Cox Automotive, fluktuasi harga bensin akibat konflik di Timur Tengah ikut mendorong naiknya pencarian konsumen terhadap mobil listrik. Namun, peningkatan minat pencarian itu belum otomatis berujung pada lonjakan pembelian unit baru. Banyak orang tampaknya masih tertarik, tetapi belum semuanya siap checkout besar-besaran.
Salah satu faktor yang memengaruhi pasar adalah harga. Rata-rata harga mobil listrik baru di AS pada Februari berada di sekitar 55.300 dolar AS, turun tipis dibanding tahun lalu. Penurunan ini membuat jarak harga antara mobil listrik dan mobil bensin makin menyempit, bahkan disebut berada pada salah satu titik terendah dalam sejarah pasar kendaraan listrik Amerika.
Insentif produsen juga berperan besar. Nilai promosi kini menyumbang sekitar 14 persen dari rata-rata nilai transaksi, atau setara sekitar 7.870 dolar AS per kendaraan. Artinya, merek otomotif masih perlu “merayu” pasar dengan diskon dan penawaran tambahan agar konsumen berani masuk ke segmen EV baru yang persaingannya makin ramai.
Tesla masih memimpin penjualan mobil listrik di AS dengan sekitar 38.500 unit terkirim pada Februari. Namun, pangsa pasarnya turun sekitar 4 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara itu, merek lain mulai merapat. Chevrolet tampil mencolok dengan pertumbuhan sekitar 70 persen dibanding periode pelaporan awal tahun, sedangkan Hyundai dan Toyota juga bergerak positif. Ford dan Nissan justru tercatat menurun.
Yang menarik, pasar mobil listrik bekas justru berjalan lebih kencang. Penjualan EV bekas di AS naik sekitar 29 persen secara tahunan dan mendekati 31.000 unit. Pertumbuhan ini memang tidak meledak-ledak, tetapi cukup kuat untuk menunjukkan perubahan selera konsumen. Banyak pembeli tampaknya mulai melihat EV bekas sebagai jalan masuk yang lebih realistis ke dunia kendaraan listrik.
Harga menjadi alasan utamanya. Pada Februari, harga transaksi rata-rata mobil listrik bekas turun di bawah 35.000 dolar AS, atau sekitar 8 persen lebih rendah dibanding setahun sebelumnya. Bahkan beberapa model EV bekas kini dijual lebih murah daripada mobil bensin sekelas. Kalau dulu EV terasa seperti barang masa depan yang mahal, sekarang sebagian unit bekasnya mulai terasa lebih “ramah dompet.”
Cox Automotive juga mencatat bahwa persediaan kendaraan listrik bekas terus menurun, termasuk hingga setara sekitar 42 hari penjualan. Angka ini mendekati level kendaraan bensin sebanding dan menjadi sinyal bahwa permintaan mulai menyeimbangkan pasokan. Dengan kondisi ini, pasar mobil listrik AS memang terlihat aneh, tetapi justru itulah pesannya: pertumbuhan EV belum berhenti, hanya jalurnya tidak lagi lurus dan sekarang semakin banyak bergerak lewat pasar bekas.






