Polda Papua kembali turun langsung ke lokasi bencana untuk membantu warga yang terdampak banjir akibat luapan air danau di Kabupaten Jayapura. Pada Selasa, 31 Maret 2026, Kapolda Papua Irjen Pol. Petrus Patrige R. Renwarin bersama Ketua Bhayangkari Daerah Papua Ny. Nova Patrige Renwarin dan para pejabat utama mendatangi tiga kampung yang terdampak cukup berat, yakni Kampung Yobeh, Kampung Atmali, dan Kampung Ifele.
Kunjungan tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian institusi kepolisian terhadap warga yang sedang menghadapi masa sulit. Kehadiran rombongan Polda Papua tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga pesan bahwa masyarakat tidak dibiarkan menghadapi situasi bencana sendirian. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran aparat di lapangan sering kali berarti lebih dari sekadar logistik, karena juga membawa rasa diperhatikan dan didampingi.
Kapolda Papua menegaskan bahwa pihaknya datang sebagai bentuk empati sekaligus komitmen Polri untuk hadir di tengah masyarakat. Bantuan yang diberikan diharapkan bisa membantu memenuhi kebutuhan dasar warga selama masa darurat. Ia juga menekankan bahwa kegiatan serupa akan terus dilakukan di wilayah-wilayah terdampak lain agar distribusi bantuan tidak berhenti hanya di satu titik.
Secara bertahap, rombongan Polda Papua mendatangi satu per satu kampung sasaran dan menyerahkan bantuan langsung kepada masyarakat. Bantuan yang disalurkan terdiri atas pakaian layak pakai, bahan kebutuhan pokok, selimut, serta bingkisan khusus untuk anak-anak yang dipersiapkan Bhayangkari Daerah Papua. Komposisi bantuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan warga tidak hanya dilihat dari sisi pangan, tetapi juga kenyamanan dasar dan perhatian terhadap anak-anak di tengah situasi bencana.
Selain bantuan logistik, kegiatan ini turut melibatkan Biddokes Polda Papua yang memberikan layanan kesehatan gratis kepada masyarakat. Pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat-obatan dilakukan di lokasi agar kondisi warga tetap terpantau, terutama karena bencana banjir sering kali memicu gangguan kesehatan jika penanganannya terlambat. Langkah ini penting, sebab pascabencana bukan cuma soal rumah dan makanan, tapi juga soal tubuh yang harus tetap kuat bertahan.
Keterlibatan Bhayangkari dalam kegiatan kemanusiaan ini juga memperlihatkan bahwa dukungan sosial yang dibangun tidak hanya bertumpu pada struktur formal kepolisian. Ada elemen kebersamaan dan kepedulian keluarga besar Polri yang ikut bergerak, sehingga bantuan terasa lebih dekat dan hangat bagi masyarakat penerima.
Di tengah kondisi yang masih sulit, warga di tiga kampung tersebut mendapatkan sedikit ruang bernapas lewat bantuan langsung yang mereka terima. Kehadiran aparat di lokasi bencana memberi sinyal bahwa pemulihan tidak boleh menunggu terlalu lama. Semakin cepat bantuan dasar dan layanan kesehatan hadir, semakin besar peluang masyarakat untuk pulih dari dampak awal bencana.
Melalui kegiatan bakti sosial ini, Polda Papua ingin memastikan bahwa peran Polri di tengah masyarakat tidak berhenti pada urusan keamanan semata. Dalam situasi darurat, pelayanan kemanusiaan justru menjadi wujud kehadiran negara yang paling terasa. Jika langkah seperti ini terus berlanjut dan merata, kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian juga akan tumbuh dari pengalaman nyata, bukan hanya dari slogan.






