Strategi Mercedes-Benz di China kini mulai menuai pertanyaan serius dari para investor. Fokus perusahaan pada segmen mobil mewah dianggap berisiko terlalu sempit, terutama ketika pasar otomotif China justru bergerak cepat ke arah kendaraan listrik canggih dengan teknologi mutakhir dan harga yang lebih kompetitif.
Dalam beberapa tahun terakhir, Mercedes-Benz bersama BMW dan Audi terus tertekan oleh kebangkitan merek lokal seperti BYD, NIO, dan Li Auto. Para pesaing domestik itu berhasil menarik konsumen berkat kombinasi teknologi modern, fitur pintar, dan positioning harga yang lebih masuk akal. Bagi banyak pembeli China saat ini, reputasi merek saja tidak lagi cukup kuat untuk memenangkan hati.
Pertanyaan itu mencuat dalam rapat pemegang saham tahunan Mercedes-Benz. Sejumlah investor menilai perusahaan asal Stuttgart tersebut belum cukup agresif dalam menyesuaikan produk dengan ekspektasi pasar China yang berubah cepat. Mereka khawatir Mercedes terlalu terpaku pada warisan kelas S-Class, sementara pasar kini lebih mengutamakan inovasi digital dan pengalaman teknologi.
Moritz Kronenberger dari Union Investment, yang termasuk salah satu dari 20 pemegang saham terbesar Mercedes-Benz, menyampaikan kritik yang cukup tajam. Menurutnya, pelanggan di China kini membeli inovasi, bukan tradisi. Pernyataan ini menggambarkan perubahan besar di pasar mobil terbesar dunia, di mana status premium mulai diukur bukan hanya dari logo di kap mesin, tetapi juga dari kecanggihan perangkat lunak dan fitur berkendara.
Tanja Bauer dari Deka Investment juga memperingatkan adanya risiko bila Mercedes terlalu fokus pada ceruk mobil mewah. Dalam situasi persaingan yang semakin keras, pendekatan seperti itu dianggap bisa membatasi peluang perusahaan untuk merebut kembali volume penjualan. Sederhananya, kalau pasar sedang lari ke arah teknologi, terlalu lama berdiri sambil memoles kejayaan masa lalu jelas bukan strategi paling santai untuk bertahan hidup.
Menanggapi tekanan tersebut, Mercedes-Benz mengatakan pihaknya telah menyiapkan pembaruan besar untuk pasar China. Perusahaan berencana meluncurkan tujuh model baru hingga 2027 dan akan menghadirkan sistem bantuan pengemudi canggih hasil kerja sama dengan perusahaan teknologi China, Momenta. Langkah ini disebut sebagai bagian dari kampanye produk dan teknologi terbesar dalam sejarah perusahaan.
CEO Ola Kallenius menegaskan bahwa kemitraan lokal dan pengembangan domestik akan membantu Mercedes mempercepat inovasi serta menyesuaikan produknya dengan kebutuhan konsumen China. Namun, tantangan yang dihadapi tidak kecil. Penjualan Mercedes-Benz di China turun 19 persen tahun lalu menjadi 552.000 kendaraan, lalu anjlok lagi 27 persen pada kuartal pertama 2026.
Dengan target penjualan jangka menengah di kisaran 500.000 hingga 600.000 unit per tahun, Mercedes-Benz jelas masih melihat China sebagai pasar yang terlalu penting untuk dilepas. Tetapi investor menginginkan lebih dari sekadar janji peluncuran model baru. Mereka menunggu bukti bahwa Mercedes benar-benar bisa bertransformasi dari simbol kemewahan klasik menjadi pemain teknologi otomotif yang relevan di era baru pasar China.






