Harga batu bara acuan global kembali menguat, dengan perhatian pasar tertuju pada isu pasokan dari Indonesia. Kontrak yang melacak benchmark Newcastle ditutup di sekitar USD116,10 per ton pada 12 Februari 2026, naik sekitar 1% dibanding penutupan sebelumnya.
Penguatan ini terjadi ketika pelaku pasar menimbang potensi gangguan suplai regional. Indonesia merupakan salah satu eksportir utama batu bara termal dunia, sehingga perubahan kebijakan produksi atau ekspor cepat memicu respons harga di Asia.
Dalam perdagangan intraday, harga sempat bergerak di area yang lebih rendah, menandakan volatilitas masih terasa. Namun, secara harian, tren tetap menunjukkan kenaikan karena pelaku industri menunggu kejelasan arah kebijakan terkait kuota produksi dan dampaknya pada pengapalan.
Pasar disebut memperhatikan ekspektasi penurunan impor batu bara dari Indonesia ke China. Ketidakpastian ini membuat importir dan trader cenderung mengamankan pasokan alternatif, yang pada akhirnya mendorong premi di pasar regional.
Dari sisi produsen, ada pengakuan bahwa produksi dan pengiriman belum sepenuhnya berjalan normal sambil menunggu keputusan final tentang kuota. Ketika sebagian penawaran spot ditahan, keseimbangan pasokan menjadi lebih ketat dan ruang kenaikan harga terbuka.
Efeknya terasa pada negara importir utama di Asia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan yang masih mengandalkan batu bara untuk pembangkit. Ketika pasokan utama sedang “abu-abu”, permintaan terhadap penawaran yang lebih stabil meningkat, dan ini ikut mengerek harga.
Ke depan, pelaku pasar tidak hanya akan memantau data produksi dan volume ekspor, tetapi juga sinyal kebijakan di Indonesia. Untuk jangka pendek, perubahan kecil pada aturan kuota dapat membentuk arah perdagangan dan pergerakan harga batu bara global.
Jika kepastian kebijakan keluar dan pengapalan kembali lancar, harga bisa mereda. Namun jika ketidakpastian berlarut, pasar akan tetap memasukkan premi risiko pasokan dalam harga Newcastle.






