Kegiatan bakti sosial kembali digelar Bhayangkari Cabang Satbrimobda Kaltim bersama Polwan Brimob Polda Kaltim di Kelurahan Gunung Sari Ilir, Balikpapan, pada Selasa, 31 Maret 2026. Lewat aksi berbagi ini, keluarga besar Polri menunjukkan bahwa kehadiran mereka di tengah masyarakat tidak hanya identik dengan tugas keamanan, tetapi juga kepedulian sosial yang langsung menyentuh kebutuhan warga.
Kegiatan yang mengusung tema “Bhayangkari Daerah Kaltim dan Polwan Polda Kaltim Berbagi” dipusatkan di halaman Kantor Kelurahan Gunung Sari Ilir. Sejak pagi, warga yang menjadi sasaran bantuan sudah berdatangan dan mengikuti kegiatan dengan antusias. Suasana di lokasi pun berlangsung tertib dan hangat, mencerminkan hubungan yang cukup dekat antara aparat dan masyarakat setempat.
Dalam penyaluran kali ini, sebanyak 125 warga kurang mampu menerima bantuan berupa gula pasir. Total bantuan yang dibagikan mencapai 250 kilogram. Meski bentuk bantuannya sederhana, kebutuhan pokok seperti gula tetap memiliki arti penting, terutama di tengah kondisi harga bahan pangan yang cenderung fluktuatif dan cukup membebani pengeluaran harian warga.
Kegiatan ini menjadi contoh bahwa bantuan sosial tidak selalu harus besar secara nominal untuk terasa manfaatnya. Yang sering dibutuhkan masyarakat justru adalah bantuan yang tepat sasaran dan datang di waktu yang pas. Dalam situasi ekonomi yang serba mepet, sekilo dua kilo gula bisa terdengar kecil di laporan acara, tapi di dapur rumah tangga ya tetap sangat terasa.
Komandan Satuan Brimob Polda Kaltim, Kombes Pol Andy Rifai, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi tersebut adalah wujud komitmen Brimob dan Bhayangkari untuk terus hadir di tengah masyarakat. Menurutnya, Polri tidak hanya berkewajiban menjaga keamanan, tetapi juga perlu peka terhadap kondisi sosial warga, terutama mereka yang sedang membutuhkan dukungan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan itu memperlihatkan bahwa kegiatan sosial semacam ini bukan sekadar agenda seremonial atau rutinitas musiman. Ada upaya untuk memperkuat relasi kemanusiaan antara aparat dan masyarakat melalui aksi yang nyata, sederhana, dan mudah dipahami manfaatnya. Dalam banyak kasus, kedekatan semacam ini justru menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya kepercayaan publik.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar tanpa kendala berarti. Sinergi antara Bhayangkari, Polwan Brimob, aparatur setempat, dan masyarakat menciptakan suasana gotong royong yang cukup terasa. Momen seperti ini mengingatkan bahwa hubungan antara institusi kepolisian dan warga bisa dibangun lewat langkah-langkah yang sangat membumi, bukan hanya melalui pendekatan formal di ruang-ruang rapat.
Pada akhirnya, pembagian bantuan gula di Gunung Sari Ilir memperlihatkan satu hal sederhana namun penting: kepedulian sosial tetap menjadi jembatan yang kuat antara Polri dan masyarakat. Jika kegiatan semacam ini terus dijaga konsistensinya, manfaatnya bukan hanya meringankan beban penerima bantuan, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan yang sering kali justru paling dibutuhkan di tengah tekanan ekonomi sehari-hari.






