Persaingan jarak tempuh kendaraan listrik di China makin menarik, namun data yang beredar menunjukkan peta yang cukup “terkotak”. Hanya sedikit model yang mampu menembus lebih dari 1.000 km dalam klaim jarak tempuh, dan barisan teratas disebut banyak diisi oleh merek yang berada dalam grup BYD.
Daftar yang dibahas menyebut Denza Z9 sebagai EV murni dengan jarak tempuh terpanjang, mencapai 1.068 km (klaim) dengan baterai 122,5 kWh. Varian Denza Z9 GT disebut menyusul dengan 1.036 km pada kapasitas baterai yang sama. Di posisi berikutnya ada Yangwang U7 yang diklaim mampu menempuh 1.006 km berkat paket baterai 150 kWh.
Di bawah kelompok “1.000 km”, ada model-model yang masih tinggi namun berada di rentang 800–900 km. Contohnya, salah satu sedan performa yang dibicarakan berada di kisaran 902 km, disusul model lain pada 870 km, 866 km, hingga sekitar 830–855 km.
Pengukuran jarak tempuh ini dikaitkan dengan siklus uji CLTC yang dikembangkan untuk mencerminkan pola berkendara di China. Siklus tersebut menekankan kondisi urban dan campuran, dengan porsi waktu akselerasi, deselerasi, kecepatan stabil, dan berhenti yang disusun untuk mendekati karakter lalu lintas sehari-hari.
Menariknya, ringkasan analisis menyoroti satu hal: tembus 1.000 km saat ini lebih banyak ditopang “besar baterai” dibanding lompatan efisiensi. Tiga model teratas yang melampaui 1.000 km sama-sama membawa baterai di atas 120 kWh, sementara rentang 800–900 km umumnya memakai baterai sekitar 89–111 kWh.
Implikasinya, EV jarak jauh ekstrem cenderung muncul pada kelas kendaraan besar atau premium karena ruang untuk baterai lebih lega sekaligus margin keuntungan lebih tinggi. Sementara untuk segmen menengah, banyak model masih bertahan di bawah 900 km, sehingga strategi efisiensi, bobot kendaraan, dan manajemen energi tetap menjadi faktor penting jika ingin mendekati angka 1.000 km tanpa baterai yang “raksasa”.






