BYD kembali menarik perhatian industri otomotif setelah muncul laporan bahwa perusahaan memangkas sekitar 100.000 karyawan sepanjang 2025. Angka itu setara dengan sekitar 10 persen dari total tenaga kerja mereka dan langsung memunculkan pertanyaan besar tentang kondisi pasar kendaraan listrik China yang semakin kompetitif dan menekan profitabilitas banyak pemain utama.
Meski terlihat drastis, BYD menegaskan bahwa langkah tersebut bukan sinyal kemunduran atau resesi internal, melainkan bagian dari strategi restrukturisasi. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi operasional dan menekan biaya agar perusahaan lebih siap menghadapi gelombang persaingan berikutnya. Dalam iklim industri kendaraan listrik yang terus bergerak cepat, perusahaan tampaknya memilih merapikan tubuhnya lebih awal daripada menunggu tekanan makin besar.
Laporan keuangan 2025 memang memberi gambaran yang campur aduk. Dari sisi pendapatan, BYD masih membukukan angka yang sangat besar dan mencatat penjualan sekitar 4,6 juta unit kendaraan. Namun, laba bersih perusahaan justru turun sekitar 19 persen dibandingkan 2024. Penurunan ini disebut berkaitan dengan kerasnya perang harga di pasar domestik serta besarnya biaya investasi untuk teknologi baru.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan volume penjualan tidak otomatis menjamin kenyamanan finansial. Di pasar EV China, persaingan sudah bergerak sangat brutal. Produsen besar tidak hanya berlomba menjual lebih banyak unit, tetapi juga harus terus menekan harga sambil tetap mengembangkan teknologi baru. Hasilnya, perusahaan bisa terlihat besar dari luar, tapi napas marginnya mulai ngos-ngosan di belakang layar.
Menariknya, di tengah pemangkasan karyawan, BYD justru tidak mengurangi belanja penelitian dan pengembangan. Perusahaan tetap menggelontorkan dana besar untuk menyelesaikan Blade Battery 2.0 dan Flash Charging 2.0 yang diperkenalkan pada awal Maret. Teknologi ini diklaim memungkinkan pengisian daya dari 10 persen hingga 97 persen hanya dalam 9 menit, sebuah capaian yang diposisikan sebagai titik tumpu penting untuk mempertahankan daya saing merek.
Artinya, BYD memilih penghematan di satu sisi sambil tetap agresif di sisi lain. Mereka memangkas tenaga kerja, tetapi tidak mengendurkan investasi pada inovasi. Strategi seperti ini menunjukkan bahwa perusahaan sedang berusaha menyeimbangkan dua kepentingan sekaligus: menata efisiensi jangka pendek dan menjaga posisi dominan untuk persaingan jangka panjang.
Meski pasar kendaraan energi baru di China sempat melambat pada Februari akibat faktor musiman saat libur Tahun Baru Imlek, BYD tampaknya tetap optimistis. Dengan peluncuran teknologi baterai dan pengisian cepat terbaru, perusahaan memperkirakan permintaan akan stabil kembali dan kemudian tumbuh lebih kuat. Harapan itu cukup masuk akal, mengingat pasar EV China masih sangat dinamis dan sensitif terhadap inovasi yang benar-benar terasa manfaatnya bagi konsumen.
Pemangkasan 100.000 karyawan pada akhirnya menggambarkan satu hal penting: bahkan raksasa seperti BYD pun tidak kebal terhadap tekanan pasar. Di tengah perang harga, persaingan teknologi, dan tuntutan efisiensi yang makin ketat, restrukturisasi menjadi pilihan yang sulit tetapi dianggap perlu. Bagi BYD, langkah ini tampaknya bukan tentang mundur, melainkan tentang menyiapkan diri agar tetap berdiri paling depan saat pertarungan fase berikutnya dimulai.






