Olimpiade Musim Dingin 2026 tidak hanya menyuguhkan duel teknik dan ketahanan fisik di atas es, tetapi juga menghadirkan “panggung mode” yang tak kalah menarik. Di cabang seluncur indah, kostum menjadi bagian dari narasi: memperkuat karakter musik, memperjelas tema, dan membantu penonton menangkap emosi program.
Tahun ini, sorotan tertuju pada perpaduan detail berkilau, potongan yang sangat presisi, hingga konsep desain yang terinspirasi film, seni rupa, dan mitologi. Setiap jahitan terasa ikut bekerja, bukan sekadar menghias tubuh atlet. Tak heran, banyak kostum langsung melekat di ingatan publik begitu atlet meluncur ke tengah arena.
Salah satu yang menonjol datang dari Jepang: pasangan Riku Miura dan Ryuichi Kihara. Keduanya mengenakan kostum bertema “Gladiator” untuk program bebas, rancangan desainer Mathieu Caron dari Quebec. Atasan Kihara memunculkan nuansa Romawi kuno, sementara gaun Miura menghadirkan efek marmer kuning-abu dengan sentuhan warna yang tampak seperti sapuan tangan, menciptakan kesan kuat namun tetap artistik.
Masih soal inspirasi seni, pasangan Kanada Piper Gilles dan Paul Poirier menciptakan momen emosional lewat program bebas pada musik “Vincent”. Gaun Gilles mengambil ruh lukisan Starry Starry Night: bagian bodi menyerupai kanvas hidup, sedangkan rok terasa seperti “kelanjutan cerita” yang bergerak. Gilles menyebut konsepnya seperti Paul “menjadi” Vincent, lalu lukisan itu seolah mengalir dari lengan bajunya ke gaun yang ia kenakan.
Dari kategori tunggal putri, Kaori Sakamoto kembali menunjukkan selera visual yang sejalan dengan bakatnya. Kostumnya—hasil rancangan Astraee Couture—memadukan ombré yang halus dengan punggung terbuka yang berani. Garis leher menyerupai rantai mutiara memberi sentuhan klasik, sementara programnya dibawakan di atas lagu ikonik Edith Piaf, menambah aura dramatis yang elegan.
Penggemar juga menunggu “kejutan” Madison Chock dan Evan Bates setiap musim. Tahun ini, Chock merancang sendiri kostum bertema gladiator-matador untuk program bebas diiringi versi baru Paint It Black. Elemen kain merah yang bergerak, termasuk rok yang sempat beberapa kali disesuaikan sepanjang musim, menghasilkan efek visual yang memotong arena—tegas, teatrikal, dan sulit diabaikan.
Dari Georgia, Anastasia Gubanova memilih pendekatan bercerita yang kuat. Kostum hitam-putihnya untuk program bebas terinspirasi musikal Ghost, dengan detail paling mencuri perhatian pada bagian punggung: siluet pria dan wanita yang saling berhadapan. Sentuhan ini membuat kostum bukan hanya cantik, tetapi juga “berbicara” tentang tema yang dibawakan.
Olimpiade 2026 juga menegaskan bahwa dunia skating kerap bekerja dengan tenggat ketat. Christina Carreira dan Anthony Ponomarenko dari Amerika Serikat tampil dengan estetika romantis pada latar Parfum: The Story of a Murderer. Disebutkan kostum mereka nyaris telat tiba, menggambarkan realitas bahwa rancangan baru kadang selesai dan diedit menjelang hari-H.
Di sisi lain, atmosfer surealis muncul lewat pasangan Prancis Evgenia Lopareva dan Geoffrey Brissaud. Gaun biru beku Lopareva dihiasi kristal perak dan manik berkilau, menghadirkan efek seperti embun es yang memantul cahaya. Ketika dipadukan dengan musik yang eksentrik, kostum itu membuat keduanya tampak seperti datang dari dunia lain.
Tren ombré juga terlihat pada Anastasia Vaipan-Law dari Inggris yang mengenakan gaun asimetris untuk program pendek bersama Luke Digby. Kombinasi warna dan potongan memberi kesan modern, sementara pasangan tampil dengan aura elegan yang rapi, memperlihatkan bagaimana desain ombré bisa tetap terasa dewasa dan tidak berlebihan.
Di kategori putra, Junhwan Cha dari Korea tampil memikat dengan kemeja sutra biru laut yang terlihat bersih namun mewah. Kristal gelap di bahu memberi aksen tanpa membuatnya ramai. Hasilnya adalah gaya yang modern dan canggih, selaras dengan musik yang dibawakan dan citra panggung yang ingin ia tampilkan.
Dari keseluruhan, pesan yang terasa jelas: kostum bukan aksesori tambahan, melainkan bagian dari performa. Saat atlet mengeksekusi lompatan, putaran, dan langkah koreografi, busana ikut membangun atmosfer—mengubah olahraga menjadi pertunjukan yang lengkap secara visual dan emosional.






