Dodge Charger memasuki babak baru di era transisi industri otomotif, ketika tekanan elektrifikasi dan standar emisi memaksa pabrikan meredefinisi apa arti “muscle car” Amerika. Setelah versi listrik Daytona EV memicu perdebatan, Dodge Charger Sixpack hadir sebagai opsi yang dinilai lebih “menengah”: masih mesin pembakaran internal, tetapi tidak lagi memakai V8 yang selama ini identik dengan karisma Charger dan Challenger.
Varian yang banyak dibahas adalah Charger Sixpack Scat Pack Plus 2026. Mobil ini mengusung mesin 3.0 liter enam silinder segaris (I6) Hurricane dengan twin-turbo, menghasilkan tenaga sekitar 550 hp dan torsi 720 Nm, dipasangkan dengan transmisi otomatis 8-percepatan serta sistem penggerak semua roda penuh waktu. Di atas kertas, performanya tetap buas: akselerasi 0–96 km/jam sekitar 4 detik, dan sprint 400 meter sekitar 12 detik lebih sedikit, dengan kecepatan akhir mendekati 185 km/jam.
Namun, angka bukan satu-satunya ukuran untuk penggemar muscle car. Charger generasi baru disebut lebih berat, hingga kisaran 2,2 ton, sehingga perbandingan dengan rival seperti Ford Mustang Dark Horse menjadi menarik. Mustang yang lebih ringan dan tetap V8 dapat memberi akselerasi sedikit lebih cepat dalam pengujian tertentu. Dari sisi rasa berkendara, review menyebut mesin I6 bekerja halus, responsnya linear, dan terasa cocok untuk penggunaan harian. Masalahnya, bagi penggemar Dodge lama, “terlalu rapi” bisa terasa seperti kehilangan karakter.
Beberapa catatan lain muncul pada transmisi dan pengereman. Pada mode berkendara agresif, perpindahan gigi otomatis disebut belum selalu meyakinkan, terutama saat pengemudi memaksa mobil tetap berada di rentang putaran tertentu. Pengereman Brembo dinilai mudah dikontrol dalam kondisi normal, tetapi jarak pengereman dari 96 km/jam disebut kurang kompetitif dibanding rival di kelas performa.
Di sisi positif, Charger Sixpack dipuji karena desain futuristik dengan strip LED depan yang menyatu dan bentuk bodi bersudut. Interiornya juga modern: panel instrumen digital besar, layar tengah lebar, serta ruang kursi belakang yang tergolong langka untuk coupe performa. Namun, satu titik penyesalan paling sering disebut tetap sama: suara mesin. Nada I6 twin-turbo yang halus dianggap tidak mampu menggantikan “raungan” V8 yang selama ini menjadi identitas muscle car Amerika—membuat Charger baru terasa lebih seperti mobil performa modern bergaya Eropa, bukan ikon garang yang dulu.






