Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendesak Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk segera membantu penanganan krisis air bersih di lokasi bencana, termasuk di Padasari, Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Menurutnya, kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.
Desakan tersebut disampaikan setelah Fikri menerima temuan dalam Kunjungan Kerja Reses Komisi X DPR RI di wilayah Jawa Tengah. Salah satu persoalan yang disorot adalah minimnya sumber air di area pembangunan hunian sementara (huntara) untuk korban bencana tanah bergerak di Padasari.
Fikri mengatakan kebutuhan air bersih di lokasi sangat penting karena berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup dan kesehatan warga terdampak. Karena situasinya mendesak, ia berharap ada dorongan kuat kepada BRIN, termasuk melalui pemerintah provinsi, agar persoalan ini dapat segera ditangani.
Saat meninjau lokasi bersama Ketua MPR RI, Fikri mengaku menerima laporan dari Kementerian Pekerjaan Umum mengenai keterbatasan sumber air. Menyikapi hal itu, ia langsung menghubungi Kepala BRIN Arif Satria untuk meminta dukungan penyediaan mesin Air Siap Minum (Arsinum).
Namun, seluruh stok mesin Arsinum yang tersedia saat ini disebut telah dikirim ke Aceh. Karena itu, wilayah Padasari masih menunggu penyelesaian produksi mesin penjernih air mobile buatan BRIN yang diharapkan dapat segera digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga.
Fikri menjelaskan bahwa inovasi mesin tersebut memiliki kapasitas sekitar 10.000 liter per hari dan dirancang untuk mengolah berbagai jenis air, termasuk air keruh serta berlumpur. Hasil pengolahan ditujukan agar memenuhi standar air siap minum sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan.
Menurutnya, keunggulan mesin Arsinum terletak pada fleksibilitas sumber air. Sistem itu dapat memanfaatkan sumber air yang tersedia di sekitar lokasi, termasuk air sungai yang keruh, lalu memurnikannya sehingga lebih aman digunakan untuk kebutuhan masyarakat terdampak bencana.
Selain persoalan air bersih, Fikri juga menyoroti kondisi industri logam lokal di Tegal yang disebut mengalami mati suri. Ia menyebut 70 hingga 80 persen industri rumahan di wilayah yang dulu dijuluki “Jepangnya Indonesia” kini berhenti berproduksi.
Fikri menilai pelemahan industri tersebut dipengaruhi minimnya pendampingan riset ilmu bahan, sehingga pelaku usaha lokal sulit bersaing di era modern. Ia memastikan aspirasi daerah, termasuk isu air bersih dan penguatan industri lokal, akan dirumuskan secara tertulis untuk diteruskan ke Panja DPR RI serta didorong melalui peninjauan regulasi yang relevan.






