Pasar otomotif Vietnam mulai dibanjiri gelombang baru mobil listrik murah asal China. Kehadiran model-model ini langsung menarik perhatian karena menawarkan harga kompetitif, fitur yang cukup lengkap, dan spesifikasi yang sebelumnya sulit ditemukan di kelas harga serupa. Namun di balik daya tarik tersebut, konsumen Vietnam ternyata tidak hanya melihat banderol murah, melainkan juga memikirkan hal yang jauh lebih praktis seperti ketersediaan stasiun pengisian dan komitmen jangka panjang merek.
Salah satu model yang ramai dibicarakan adalah Geely EX2. Mobil listrik perkotaan ini hadir dalam dua versi dengan harga sekitar 459 juta dan 499 juta dong. Daya tariknya tidak hanya pada harga, tetapi juga ruang kabin yang cukup lega untuk ukuran city EV. Geely EX2 memiliki ruang kaki belakang hingga 890 mm dan bagasi depan 70 liter, membuatnya terasa cukup fungsional untuk mobil mungil.
Dari sisi teknis, EX2 dibekali motor listrik sinkron magnet permanen bertenaga 115 hp dengan torsi 150 Nm. Sistem penggeraknya disebut memakai konfigurasi 11-in-1, yang menggabungkan motor, transmisi, dan kontroler dalam satu unit untuk efisiensi lebih baik. Mobil ini juga menggunakan platform GEA, penggerak roda belakang, suspensi belakang multi-link, serta fitur ADAS seperti adaptive cruise control, pengereman darurat otomatis, dan kamera 540 derajat.
Di sisi lain, Wuling Mini EV yang sempat meredup kini bersiap kembali ke Vietnam dengan identitas baru sebagai Wuling Macaron. Kali ini mobil tersebut hadir dalam versi lima pintu, lengkap dengan port pengisian CCS2, kamera mundur, sensor parkir, rem ABS/EBD, serta jarak tempuh yang meningkat. Dealer sudah mulai memberikan gambaran harga sekitar 269 juta dong untuk versi 205 km dan 329 juta dong untuk versi 300 km, meski harga resminya belum diumumkan.
Masih di segmen paling terjangkau, ada pula Bestune Xiaoma yang dibanderol sekitar 199 juta dong, atau sedikit lebih tinggi untuk pilihan warna tertentu. Mobil ini memang tidak terlalu agresif dalam promosi dan cukup jarang terlihat di jalan, tetapi tetap menjadi bagian dari peta persaingan EV murah China di Vietnam. Ukurannya setara Mini EV, memakai motor listrik 20 kW dengan torsi 85 Nm, serta baterai LFP 13,9 kWh yang mendukung jarak tempuh sekitar 170 km.
Meski pilihan produk semakin banyak, perhatian utama konsumen Vietnam masih tertuju pada urusan stasiun pengisian publik. Pengisian lambat di rumah memang dianggap solusi yang baik dan ramah terhadap kesehatan baterai, tetapi tidak semua pengguna tinggal di rumah tapak yang memungkinkan pemasangan charger pribadi. Bagi penghuni apartemen atau bangunan bertingkat, stasiun pengisian umum tetap menjadi elemen yang sangat penting sebelum benar-benar berani membeli EV.
Beberapa distributor mulai mencoba menjawab persoalan ini. Tasco Auto, misalnya, menargetkan pembangunan 55 stasiun pengisian di Vietnam sepanjang 2026 melalui kerja sama dengan Esky. Mereka bahkan menawarkan diskon biaya pengisian 35 persen bagi pelanggan yang memakai jaringan tersebut. Sementara itu, TMT Motors sebelumnya juga sempat mengumumkan rencana ambisius membangun sedikitnya 30.000 stasiun pengisian hingga 2030, meski implementasinya sejauh ini belum terlihat terlalu besar.
Di luar infrastruktur, konsumen Vietnam juga mempertimbangkan satu hal yang tidak kalah penting, yaitu komitmen jangka panjang merek. Gelombang pertama mobil China di Vietnam dulu sempat meninggalkan kesan kurang baik, sehingga pembeli sekarang cenderung lebih hati-hati. Mereka tidak hanya bertanya mobilnya bagus atau tidak, tetapi juga apakah mereknya akan bertahan lama, menyediakan suku cadang, dan membangun jaringan layanan dengan serius. Jadi, dalam persaingan EV murah China di Vietnam, harga memang menggoda, tapi yang benar-benar akan menentukan kemenangan adalah kombinasi antara produk menarik, stasiun pengisian yang nyata, dan kepercayaan pasar yang dibangun perlahan.






