Harga Emas Dunia Bertahan di Atas 5.000, Pasar Tunggu Data AS

Avatar photo

- Penulis Berita

Rabu, 11 Februari 2026 - 14:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Emas

Emas

Harga emas dunia kembali menorehkan area baru setelah bertahan di atas zona 5.000 dolar AS per ounce. Pergerakan ini terjadi ketika pasar melihat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turun, sehingga logam mulia kembali dipandang menarik sebagai aset pelindung nilai.

Dalam sesi perdagangan 10 Februari waktu AS, harga emas spot sempat melemah saat penutupan menjadi sekitar 5.024,8 per ounce. Namun, di tengah sesi yang sama, harga memantul dan bahkan menyentuh 5.039 per ounce, sebelum sempat melonjak hingga area 5.060 per ounce.

Kontrak emas pengiriman April di AS juga menunjukkan nada serupa. Kontrak tersebut ditutup menguat sekitar 0,6% dan berada di kisaran 5.060,6 per ounce, menguatkan sinyal bahwa pembeli masih aktif meski volatilitas belum sepenuhnya mereda.

Jika ditarik ke periode lebih panjang, momentum kenaikan emas terlihat semakin tegas. Dalam satu pekan terakhir, emas disebut meningkat sekitar 5,5%, sementara sejak awal tahun lonjakannya telah melampaui 16,5%—angka yang mencerminkan dorongan kuat dari kombinasi faktor makro dan sentimen risiko.

Meski sempat bergerak “menanjak vertikal” dengan rentang naik-turun harian yang besar, pergerakan terakhir mulai terlihat lebih mendatar. Banyak pelaku pasar menilai emas sedang memasuki fase konsolidasi dengan amplitudo yang lebih sempit dibanding fase liar sebelumnya, walau levelnya tetap berada di atas area psikologis 5.000 per ounce.

Salah satu pemicu penting datang dari pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS melemah setelah serangkaian data ekonomi memberi sinyal perlambatan. Situasi ini membuka ruang spekulasi bahwa bank sentral AS berpotensi lebih longgar, yang biasanya mendukung emas karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga.

Namun arah kebijakan moneter belum sepenuhnya satu suara. Beth Hammack dari Federal Reserve Cleveland menilai bank sentral belum berada dalam tekanan untuk mengubah suku bunga tahun ini, dengan prospek ekonomi yang menurutnya masih “berhati-hati tetapi optimis”.

Di sisi lain, ekspektasi investor tetap mengarah pada penurunan suku bunga setidaknya dua kali pada 2026, masing-masing 25 basis poin. Pasar bahkan banyak yang memperkirakan pemotongan pertama berpotensi muncul sekitar Juni, sehingga setiap data baru dari AS menjadi penentu arah berikutnya.

Data konsumsi juga ikut membentuk narasi perlambatan. Penjualan ritel AS pada Desember 2025 dilaporkan cenderung datar karena rumah tangga mengurangi belanja mobil dan barang bernilai tinggi. Jika tren itu berlanjut, konsumsi—mesin utama pertumbuhan—dikhawatirkan melemah tahun ini.

Karena itulah pelaku pasar menunggu rilis data ekonomi kunci, termasuk laporan ketenagakerjaan non-pertanian Januari dan data inflasi pertengahan Februari. Dua rilis ini dipandang bisa memberi petunjuk lebih jelas tentang peta jalan kebijakan The Fed dan kelanjutan reli emas.

Dari pasar global, India juga menjadi sorotan setelah investor mengalirkan dana ke ETF emas pada Januari saat risiko geopolitik meningkat. Di komoditas lain, perak spot sempat naik ke sekitar 81,49 per ounce, platinum menguat ke kisaran 2.098,78 per ounce, dan paladium bergerak tipis di sekitar 1.122,25 per ounce.

Berita Terkait

Kekuatan Militer China Kini Setara Amerika Serikat dan Jadi Ancaman Terbesar
Tekanan Hebat Jerome Powell di Tengah Badai Konflik Internal The Fed
Konflik Global Mengancam Asia Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Mulai Dipangkas Lembaga Internasional
Korea Utara dan Rusia Perkuat Aliansi Narasi Militer Lawan Dominasi Barat
Donald Trump Peringatkan Vladimir Putin Terkait Potensi Dampak Kerusakan Perang Iran
Kim Jong-un Puji Peran Militer Korut dalam Konflik Ukraina, Sinyal Eskalasi Global
The Fed Tahan Suku Bunga Acuan Akibat Inflasi AS Belum Stabil
Konflik AS-Iran Telan Biaya Rp395 Triliun dan Bebani Ekonomi Global

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 16:15 WIB

Kekuatan Militer China Kini Setara Amerika Serikat dan Jadi Ancaman Terbesar

Kamis, 30 April 2026 - 16:14 WIB

Tekanan Hebat Jerome Powell di Tengah Badai Konflik Internal The Fed

Kamis, 30 April 2026 - 16:14 WIB

Konflik Global Mengancam Asia Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Mulai Dipangkas Lembaga Internasional

Kamis, 30 April 2026 - 16:14 WIB

Korea Utara dan Rusia Perkuat Aliansi Narasi Militer Lawan Dominasi Barat

Kamis, 30 April 2026 - 16:01 WIB

Donald Trump Peringatkan Vladimir Putin Terkait Potensi Dampak Kerusakan Perang Iran

Berita Terbaru