Pasar otomotif Rusia memasuki 2026 dengan tekanan yang makin terasa di sisi konsumen. Data terbaru menunjukkan harga rata-rata mobil, baik unit baru maupun bekas, naik ke level yang disebut sebagai rekor tertinggi. Kenaikan ini terjadi di tengah kombinasi suku bunga yang tinggi, biaya pembiayaan yang membengkak, serta daya beli masyarakat yang melemah—membuat keputusan membeli kendaraan menjadi semakin berat bagi banyak rumah tangga.
Menurut informasi yang dikaitkan dengan Autostat, harga rata-rata mobil penumpang baru di Rusia pada akhir Januari berada di kisaran 3,5 juta rubel. Angka tersebut memang sedikit lebih rendah dibanding Desember 2025, namun tetap jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Jika ditarik setahun ke belakang, kenaikannya disebut berada pada kisaran dua digit. Kondisi serupa terlihat di pasar mobil bekas: rata-rata harga mobil seken pada Januari juga meningkat signifikan dari tahun ke tahun, sementara perubahan dibanding bulan sebelumnya relatif kecil.
Pergerakan harga ini tidak lepas dari perubahan besar struktur pasar Rusia. Sejak banyak merek otomotif global menarik distribusi dan produksi akibat sanksi dan situasi geopolitik, ruang pasar terbuka lebar bagi produsen dari Tiongkok. Pergeseran pemain memang menjaga ketersediaan produk, tetapi tidak otomatis menurunkan harga. Justru, biaya impor, penyesuaian rantai pasok, dan mahalnya kredit membuat harga tetap berada di atas jangkauan sebagian konsumen.
Di sisi permintaan, tanda-tanda pelemahan juga terlihat. Survei yang dikaitkan dengan Autostat menyebut biaya pinjaman sebagai alasan terbesar orang menahan diri membeli mobil baru. Porsi responden yang menilai bunga kredit terlalu tinggi berada pada posisi dominan. Alasan berikutnya adalah daya beli yang turun karena kondisi ekonomi yang tidak sepenuhnya pulih. Ada pula kelompok yang memilih menunggu merek-merek besar internasional kembali masuk pasar, sehingga menunda keputusan pembelian.
Ke depan, prediksi pasar menyiratkan harga mobil bekas masih berpotensi naik pada 2026, meski laju kenaikan diperkirakan lebih “terkendali” dibanding lonjakan sebelumnya. Artinya, konsumen kemungkinan masih harus berhadapan dengan harga kendaraan yang relatif mahal dalam waktu dekat, dengan fluktuasi bulanan yang bisa terjadi tetapi tidak cukup untuk mengubah gambaran besar pasar.






