Hyundai Motor mempertegas arah ekspansi globalnya melalui strategi lokalisasi yang lebih agresif dan peningkatan kapasitas produksi hingga 1,2 juta kendaraan per tahun pada 2030. Rencana ini disampaikan CEO Jose Munoz dalam rapat pemegang saham tahunan, di tengah perubahan besar industri otomotif dunia yang kini digerakkan oleh elektrifikasi, kecerdasan buatan, dan teknologi kendaraan otonom.
Munoz menyebut bahwa Hyundai melihat tantangan perdagangan global justru sebagai peluang untuk membangun keuntungan struktural jangka panjang. Dengan memperluas produksi di dekat pasar utama, perusahaan ingin mengurangi ketergantungan pada satu basis manufaktur sekaligus mendekatkan produk ke pelanggan. Strategi ini makin relevan ketika ketidakpastian geopolitik dan rantai pasok masih sering bikin industri otomotif berdebar seperti nunggu hasil ujian.
Amerika Utara ditempatkan sebagai pasar paling penting karena memiliki kontribusi besar terhadap penjualan global Hyundai. Untuk kawasan ini, perusahaan menyiapkan 36 model baru, termasuk lini kendaraan listrik, model EREV atau electric range extender vehicle, serta pickup ukuran menengah pertama Hyundai yang direncanakan hadir sebelum 2030.
Khusus untuk EREV, Hyundai menargetkan peluncuran mulai 2027 dengan jarak tempuh maksimal lebih dari 965 kilometer. Konsep kendaraan ini menggabungkan motor listrik dan baterai dengan mesin pembakaran internal yang berfungsi sebagai pengisi daya baterai, bukan penggerak utama. Dengan formula itu, Hyundai mencoba menawarkan jembatan antara EV murni dan kebutuhan mobilitas jarak jauh.
Selain Amerika Utara, China dan India juga masuk dalam fokus besar perusahaan. Di China, Hyundai menargetkan peluncuran 20 model baru dalam lima tahun mendatang, termasuk SUV listrik Elexio dan sedan listrik murni segmen C. Target produksinya dipasang cukup ambisius, yakni mencapai 500.000 unit per tahun, lebih dari dua kali lipat posisi saat ini.
India juga mendapat porsi investasi yang tidak main-main. Hyundai menyiapkan dana sebesar 5 miliar dolar AS untuk mengembangkan 26 model baru sampai 2030. Salah satu agenda pentingnya adalah peluncuran SUV listrik pertama yang dirancang, dikembangkan, dan diproduksi sepenuhnya secara lokal pada 2027. Pada tahun yang sama, Genesis juga dijadwalkan resmi masuk ke pasar India.
Yang menarik, Vietnam turut disebut sebagai salah satu pasar strategis dalam peta ekspansi Hyundai. Munoz secara terbuka menyinggung fasilitas baru di India, Arab Saudi, dan Vietnam sebagai bagian dari upaya memperluas produksi global. Ini memperlihatkan bahwa Asia Tenggara tetap dipandang penting, bukan sekadar pasar pelengkap.
Di luar ekspansi manufaktur, Hyundai terus menambah investasi di bidang teknologi. Perusahaan bekerja sama dengan nama-nama besar seperti Nvidia, Waymo, serta membangun koneksi dengan perusahaan seperti 42dot dan Motional. Hyundai juga berencana membangun pusat data AI di Korea Selatan untuk memperkuat pengembangan kendaraan cerdas dan sistem otonom.
Dengan strategi produksi yang makin tersebar, fokus kuat pada EV dan hybrid, serta dorongan besar ke AI dan mobil self-driving, Hyundai sedang mencoba menata ulang posisinya dalam industri otomotif global. Tujuannya jelas: bukan hanya bertahan di era baru, tetapi ikut memimpin. Dan kalau rencana 36 model baru ini berjalan sesuai skenario, Hyundai tampaknya tidak datang untuk numpang lewat di perlombaan teknologi otomotif berikutnya.






