Menjelang penghujung Ramadan 1447 Hijriah, suasana Masjid Istiqlal di Jakarta tetap ramai. Tradisi buka puasa bersama yang rutin digelar masih menarik ribuan jamaah dari berbagai daerah, memenuhi selasar masjid dengan barisan rapi dan suasana kebersamaan yang terasa hangat.
Pantauan pada Jumat (20/3/2026) menunjukkan jamaah terus berdatangan, bahkan ketika Ramadan tinggal menghitung hari. Makanan berbuka sudah disiapkan panitia sebelumnya, dan jamaah terlihat menunggu waktu magrib dengan tertib—seperti antrean, tapi versi yang lebih ikhlas.
Sejumlah jamaah mengaku rutin datang setiap tahun. Ada yang sengaja mampir karena aksesnya mudah, misalnya dekat Stasiun Juanda, sehingga cocok bagi mereka yang mobilitasnya tinggi dan ingin berbuka sambil merasakan suasana masjid terbesar di Indonesia.
Bagi sebagian jamaah, daya tariknya bukan hanya karena lokasi, tetapi juga karena menu berbuka yang disediakan gratis. Ini membantu mereka yang sedang dalam perjalanan atau yang ingin merasakan kebersamaan berbuka tanpa harus memikirkan biaya tambahan.
Jamaah lain menilai suasana di Istiqlal lebih meriah dibanding berbuka di kampung halaman. Buka puasa bersama di sini bukan sekadar makan, tetapi juga pengalaman sosial: duduk berdekatan, saling memberi ruang, dan merasakan bahwa Ramadan itu bukan lomba “paling sibuk,” melainkan latihan menjadi lebih peduli.
Masjid Istiqlal disebut menyediakan hingga 10 ribu boks makanan gratis untuk jamaah berbuka selama Ramadan. Angkanya dapat naik saat akhir pekan, ketika jumlah jamaah bisa membludak dibanding hari biasa. Pola ini menunjukkan kegiatan berbuka di Istiqlal sudah menjadi magnet yang konsisten.
Pengelola masjid juga memberi perhatian khusus kepada jamaah disabilitas. Fasilitas seperti lift, toilet, dan area khusus di bagian depan masjid disiapkan agar semua jamaah bisa beribadah dengan nyaman dan aman.
Menteri Agama yang juga Imam Besar Istiqlal, Nasaruddin Umar, pernah menegaskan bahwa Istiqlal siap menjadi rumah bagi semua, termasuk dalam semangat kebersamaan Ramadan. Pesan utamanya: masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga ruang pelayanan dan persaudaraan.
Di akhir Ramadan, antusiasme yang tetap tinggi ini menjadi pengingat sederhana: orang datang ke Istiqlal bukan sekadar mencari nasi boks, melainkan mencari rasa “bareng-bareng” yang kadang hilang di hari-hari biasa. Dan di sinilah Ramadan terasa nyata—bukan di timeline, tapi di tikar, di selasar, dan di hati yang ikut diluaskan.






