Ferrari menghadapi potensi hambatan baru menjelang peluncuran mobil listrik pertamanya. Nama “Luce” yang sudah diperkenalkan ke publik kini terancam bermasalah di Jepang setelah Mazda diketahui mengajukan pendaftaran merek dagang dengan nama yang sama. Situasi ini membuka kemungkinan bahwa Ferrari bisa kesulitan memakai nama tersebut di salah satu pasar otomotif penting di Asia.
Temuan ini mencuat hanya beberapa minggu setelah Ferrari memperlihatkan sebagian interior mobil listrik perdananya dan mengumumkan nama Luce untuk proyek tersebut. Mobil itu rencananya akan diluncurkan secara resmi pada 26 Mei, sehingga kemunculan langkah Mazda dianggap datang pada waktu yang sangat sensitif bagi Ferrari.
Nama Luce sendiri bukan nama asing bagi Mazda. Di masa lalu, Luce pernah menjadi nama sedan premium Mazda di Jepang, dan di pasar internasional dikenal juga sebagai Mazda 929. Karena itulah, langkah Mazda mendaftarkan kembali nama tersebut bisa dipahami sebagai upaya melindungi warisan merek lama, meski tetap memunculkan spekulasi apakah ini kebetulan biasa atau manuver yang sangat terukur.
Sampai sekarang belum ada tanda bahwa Mazda benar-benar akan membangkitkan lagi model bernama Luce ke jalur produksi. Namun dalam industri otomotif, mendaftarkan ulang nama lama adalah praktik umum untuk mencegah pesaing menggunakannya. Jadi, meskipun tidak selalu berarti akan lahir model baru, langkah itu tetap bisa menciptakan efek hukum dan pemasaran yang serius bagi pihak lain.
Masalah seperti ini bukan hal baru di dunia mobil. Sejarah industri sudah penuh dengan contoh merek yang terpaksa mengganti nama model menjelang peluncuran karena berbenturan dengan hak dagang, aturan lokal, atau kemiripan dengan nama milik produsen lain. Alfa Romeo, Fiat, hingga Volvo pernah menghadapi situasi serupa. Jadi Ferrari sedang masuk ke klub yang cukup elite, walau jelas bukan klub yang diinginkan bagian marketing.
Di sisi lain, ada juga banyak kasus di mana dua produsen dapat memakai nama sama tanpa konflik berarti, tergantung wilayah, kategori produk, dan keputusan hukum setempat. Namun Jepang adalah pasar yang sangat sensitif soal perlindungan merek dagang. Bila aplikasi Mazda disetujui dan ruang hukumnya sempit, Ferrari bisa dipaksa meninjau ulang strategi penamaan untuk mobil listrik yang justru ingin dijadikan tonggak baru perusahaan.
Ferrari sendiri sudah berinvestasi cukup besar untuk membangun narasi seputar Luce. Nama itu diumumkan berbarengan dengan arah desain interior baru yang digarap bersama studio LoveFrom, rumah desain yang didirikan Jony Ive dan Marc Newson. Karena itu, jika nama tersebut nanti harus diganti di Jepang, implikasinya bukan cuma administratif, tetapi juga bisa merembet ke branding, promosi, hingga penyesuaian materi kampanye global.
Sampai saat ini, belum jelas apakah Mazda benar-benar ingin “menghidupkan” Luce atau hanya menahan pintu agar tidak dipakai orang lain. Namun satu hal pasti: Ferrari kini harus bersiap dengan beberapa skenario, termasuk kemungkinan mengganti nama EV pertamanya di pasar tertentu. Ironisnya, mobil yang seharusnya membawa cahaya baru bagi Ferrari justru berisiko tertahan dulu karena urusan nama. Dunia otomotif memang kadang bukan cuma soal tenaga dan torsi, tapi juga soal siapa yang lebih cepat ke kantor merek dagang.






