Persaingan papan atas Liga Premier kembali memanas setelah rangkaian hasil pada pekan ke-25. Arsenal sebelumnya menang 3-0 atas Sunderland pada Sabtu dan sempat menciptakan jarak sembilan poin di puncak klasemen. Namun sehari kemudian, Manchester City menjawab tekanan dengan kemenangan besar secara psikologis: menundukkan Liverpool 2-1 di Anfield. Hasil itu memangkas selisih menjadi enam poin, sekaligus menambah beban pada Arsenal saat kompetisi memasuki fase krusial musim.
Mantan bek Manchester United, Gary Neville, menilai Arsenal saat ini tampil sebagai tim paling kuat dan stabil di Inggris. Bahkan ia mengaku sejak awal musim sempat memprediksi Arsenal punya peluang besar mengakhiri puasa gelar. Meski begitu, Neville mengingatkan bahwa City tidak boleh dianggap “selesai” hanya karena performa mereka disebut belum berada pada versi terbaik. Menurutnya, ada tiga faktor yang bisa membuat perbedaan ketika perlombaan memasuki periode menentukan: pelatih, penjaga gawang, dan penyerang.
Dalam pandangan Neville, City masih punya paket pengalaman yang sulit disaingi. Ia menyebut nama Pep Guardiola sebagai inti dari faktor pertama, karena kemampuan Guardiola melewati momen-momen tekanan dan mengelola fase akhir musim sudah terbukti berkali-kali. Faktor kedua yang ia garis bawahi adalah kiper Gianluigi Donnarumma, yang disebut punya kualitas dan keberanian untuk mengubah jalannya pertandingan—terutama pada laga-laga ketat ketika satu penyelamatan bisa sama nilainya dengan satu gol. Faktor ketiga adalah Erling Haaland, striker yang kerap menjadi pembeda dalam situasi genting karena dominasi fisik dan ketajaman di kotak penalti.
Neville menilai posisi-posisi kunci tersebut sering menjadi penentu gelar. Ia tidak menafikan City juga punya pilar lain seperti Ruben Dias, Bernardo Silva, Phil Foden, atau Rodri. Namun baginya, ketika musim sudah memasuki fase “enam putaran terakhir” atau periode mendekati itu, tim yang memiliki kombinasi pelatih top, kiper elite, dan penyerang mematikan biasanya memiliki keunggulan psikologis sekaligus taktis.
Kemenangan City di Anfield memperkuat narasi itu. Liverpool sempat mencetak gol melalui Dominik Szoboszlai pada menit ke-74, sebelum City membalas lewat Bernardo Silva pada menit ke-84. Di penghujung laga, Haaland mencetak gol penentu melalui penalti pada menit 90+3. Pertandingan juga diwarnai kartu merah untuk Szoboszlai pada menit 90+13. Bagi Neville, bukan sekadar tiga poin yang City dapatkan, tetapi pesan: mereka masih sanggup bertahan di bawah tekanan dan menang di tempat yang sulit.
Tekanan berpotensi bertambah pada pekan berikutnya. Pada pekan ke-26, City dijadwalkan bermain lebih dulu pada 11 Februari melawan Fulham di Etihad. Jika City menang, selisih dengan Arsenal bisa turun menjadi tiga poin sebelum Arsenal bertandang ke Brentford sehari setelahnya. Neville menyebut rangkaian pertandingan seperti ini dapat mengubah “beban mental” dalam perburuan gelar, bahkan tanpa mengubah kualitas Arsenal di lapangan.
Ia juga menyinggung faktor pengalaman sebagai titik rawan Arsenal. Arsenal belum pernah mengangkat trofi Liga Premier sejak musim tak terkalahkan 2003-2004. Dalam beberapa musim terakhir di bawah Mikel Arteta, Arsenal disebut terus berkembang, tetapi tiga tahun beruntun finis di posisi kedua memperlihatkan bahwa memenangkan gelar butuh ketenangan ekstra pada momen-momen kecil. Neville menyimpulkan, ketika jarak tinggal enam poin, Arsenal harus menjaga fokus karena City punya alat dan pengalaman untuk menyalip kapan saja.
Pandangan serupa juga disampaikan Roy Keane. Eks kapten Manchester United itu menilai kemenangan City di Anfield merupakan dorongan psikologis yang besar, bukan hanya untuk skuad City sendiri, tetapi juga sebagai sinyal bagi pesaing. Keane menekankan bahwa memimpin klasemen lalu melihat rival terdekat menang di kandang lawan seperti Liverpool dapat mengubah suasana, karena di titik seperti inilah kualitas, keberanian, dan kebiasaan menang menjadi mata uang utama perebutan gelar.






