Dua pekan setelah rilis, Nioh 3 sudah mendapat label yang biasanya butuh waktu berbulan-bulan: sukses komersial. Angka penjualan awalnya membuat seri ini mencatat rekor baru, sekaligus menguatkan satu kesimpulan sederhana—pasar masih lapar pada pengalaman bergaya soulslike.
Koei Tecmo dan Team Ninja mengumumkan bahwa Nioh 3 telah melampaui satu juta kopi terjual. Pencapaian ini menjadikannya judul tercepat dalam waralaba Nioh yang mencapai tonggak tersebut, memperlihatkan bahwa basis penggemarnya bukan hanya bertahan, tetapi membesar.
Yang menarik, keberhasilan itu tidak berdiri sendirian. Total penjualan seluruh seri Nioh kini disebut sudah melewati 10 juta kopi. Dengan kata lain, Nioh 3 bukan “ledakan sesaat”, melainkan kelanjutan dari reputasi yang dibangun sejak seri pertama meramu tantangan tinggi dengan rasa aksi yang khas.
Dari sisi komunitas PC, indikatornya juga terlihat jelas. Di Steam, game ini sudah mengumpulkan lebih dari 7.000 ulasan, dan lebih dari 80% di antaranya memberi penilaian positif. Untuk ukuran game yang menuntut tingkat ketelitian tinggi, respons seperti ini biasanya menjadi sinyal kuat bahwa mekaniknya dianggap adil, memuaskan, dan punya kedalaman.
Data pemain serentak (concurrent) di platform Valve juga menambah narasi. Nioh 3 sempat menyentuh puncak sekitar 88.000 pemain bersamaan, lebih dari dua kali lipat capaian judul sebelumnya pada fase rilis yang sama (sekitar 41.000). Lonjakan ini menunjukkan antusiasme peluncuran yang besar, sekaligus efek viral dari rekomendasi komunitas.
Di agregator ulasan, performanya pun tidak mengecewakan. Skor 86 di MetaCritic sering dipakai sebagai patokan kualitas tinggi, terutama untuk game aksi-RPG yang biasanya rentan diperdebatkan: ada yang menyukai tingkat kesulitan, ada pula yang menganggapnya terlalu menghukum. Dalam konteks itu, skor tinggi berarti konsensusnya cukup solid.
Keberhasilan Nioh 3 juga menarik karena ia bukan tiruan mentah formula FromSoftware. Sejak awal, Nioh menafsirkan struktur soulslike dengan ciri yang lebih “angka dan loot”: peralatan, statistik, serta kustomisasi build menjadi pusat strategi. Bagi sebagian pemain, pendekatan ini membuat Nioh terasa mendekati dungeon crawler ala Diablo, tetapi tetap menuntut refleks dan manajemen stamina.
Bab ketiga disebut membawa evolusi pada cara bermain dengan memperkenalkan dua gaya bertarung berbeda: samurai dan ninja. Dua pendekatan ini memberi ruang bagi pemain untuk memilih ritme pertempuran—apakah ingin mengandalkan duel frontal yang kokoh, atau bermain lincah dan taktis dengan gaya yang lebih cepat.
Meski begitu, inti pengalaman Nioh 3 masih terasa “keluarga” bagi penggemar lamanya. Banyak orang menyebutnya sebagai “lebih banyak dari hal yang sudah disukai”, alias penyempurnaan daripada revolusi. Dan tampaknya, strategi itu tepat: game ini menekan tombol yang benar untuk memuaskan audiensnya, tanpa kehilangan identitas.
Dengan game yang tersedia di PS5 dan PC, pertanyaan yang kini bergeser bukan lagi “apakah Nioh 3 laku”, melainkan “apakah gelombang soulslike akan terus memunculkan pemenang baru”. Untuk saat ini, Nioh 3 sudah menjawab bahwa selera pasar belum habis—dan seri ini masih tahu cara membuat orang kembali bertarung, mati, belajar, lalu mencoba lagi.






