Banyak orang memilih memakai uang bonus atau angpao awal tahun untuk membeli barang yang “sekali beli terasa spesial”, dan jam tangan sering masuk daftar teratas. Namun bagi pemula, jam tangan pertama justru bisa menjadi pembelian paling berisiko jika dilakukan tanpa bekal pengetahuan yang cukup.
Jovan K, pengulas dan analis pasar yang dikenal lewat WristReview, menggambarkan proses awal biasanya dimulai dari hal-hal yang tampak sederhana: membandingkan model, mengintip rentang harga, dan membaca spesifikasi yang sebelumnya jarang diperhatikan. Masalah sering muncul ketika rasa antusias mengalahkan kehati-hatian, terutama saat transaksi bergeser ke pasar online.
Menurutnya, pemula perlu menempatkan verifikasi keaslian sebagai “pagar utama” sebelum bicara desain dan gengsi. Dokumen yang menjelaskan status, komponen asli, serta sumber jam harus transparan. Riwayat servis juga penting—bukan sekadar ada atau tidak, tetapi jelas siapa yang melakukan dan kapan dilakukan.
Langkah berikutnya adalah memastikan proses pembayaran dan pengiriman memiliki perlindungan. Jovan K menekankan pentingnya jalur transaksi yang aman, misalnya mekanisme escrow, serta pengiriman yang diasuransikan. Banyak kasus orang kehilangan uang karena terburu-buru percaya pada iklan yang tidak diverifikasi atau penjual yang sulit ditelusuri.
Seiring data koleksi jam dari jutaan pengguna dikumpulkan, terlihat pola bahwa “selera jam” berkembang bertahap. Pada fase awal, mayoritas pemula cenderung memilih merek yang relatif mudah diakses seperti TAG Heuer, Tissot, atau Breitling—merek yang dianggap menyeimbangkan kualitas, nilai, dan cerita brand.
Ketika pengalaman bertambah, fokus sering bergeser dari sekadar tampilan ke level pengerjaan dan sejarah manufaktur. Di titik inilah nama seperti Patek Philippe, Audemars Piguet, atau Vacheron Constantin biasanya baru muncul setelah beberapa tahun, sejalan dengan meningkatnya pengetahuan, rasa percaya diri, dan perubahan anggaran.
Ada pula merek yang bertahan di berbagai tahap koleksi. Rolex sering disebut sebagai pilihan yang tetap relevan, baik sebagai pembelian pertama maupun saat “upgrade”, karena prestise, kualitas, dan kemampuannya menjaga nilai. Sementara itu, Casio kerap mewakili nilai emosional—jam “pertama” yang kemudian dibeli lagi sebagai hadiah atau nostalgia masa muda.
Risiko terbesar di pasar sekunder adalah detail kecil yang luput dari mata pemula. Dial, jarum, bentuk indeks, hingga finishing tertentu bisa terlihat “baik-baik saja” bagi orang baru, tetapi menjadi penanda penting bagi kolektor berpengalaman. Karena itulah, pemula perlu mencari penjual yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga menyediakan bukti asal-usul dan proses inspeksi.
Untuk pembelian jam bekas pertama, sebagian ahli menyarankan platform dengan ekosistem lebih transparan seperti Chrono24 yang menawarkan verifikasi, sertifikasi digital, akun escrow, dan pengiriman diasuransikan. Sistem semacam ini tidak menghilangkan risiko sepenuhnya, tetapi dapat menurunkannya secara signifikan dibanding transaksi informal.
Saran lain datang dari Paul Altieri, CEO Bob’s Watches, yang menekankan gaya pribadi sebagai titik awal. Ia mengingatkan pasar jam menawarkan spektrum luas: dari model tiga jarum sederhana sampai komplikasi seperti moonphase, kalender abadi, atau minute repeater. Yang penting adalah menentukan peran jam—apakah akan menjadi awal koleksi jangka panjang atau aksesori tunggal untuk banyak kesempatan.
Jika tujuannya fleksibel untuk berbagai situasi, Altieri menyarankan memilih desain klasik dan netral yang mudah dipadukan dengan pakaian santai maupun semi-formal. Ia juga menilai pemula cenderung lebih aman memulai dari jam modern ketimbang vintage, karena jam modern umumnya lebih stabil dan lebih mudah digunakan.
Jam vintage memang menggoda dari sisi estetika dan cerita, tetapi sering menuntut pengetahuan perawatan yang belum dimiliki pendatang baru. Jam modern pun tetap perlu dicek, namun biasanya memberi pengalaman yang lebih nyaman, sehingga pembelian jam pertama terasa menyenangkan—bukan menjadi pelajaran mahal karena kurang verifikasi.






