Nilai tukar rupiah memulai pekan dengan pergerakan yang lebih kuat. Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, rupiah tercatat menguat 86 poin atau 0,51% menjadi Rp16.802 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.888 per dolar AS.
Penguatan ini tidak berdiri sendiri. Sentimen eksternal kembali mengambil peran besar, terutama setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat yang memberi sinyal perlambatan aktivitas pada akhir 2025.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, salah satu pemicu utama adalah data Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal IV-2025 secara year on year (YoY) yang turun tajam. Angka pertumbuhan disebut melandai dari 4,4% menjadi 1,4%.
Penurunan tersebut dikaitkan dengan penutupan pemerintah AS yang berlangsung 43 hari. Kondisi itu dipandang menekan aktivitas dan memperbesar ketidakpastian, sehingga pasar valas ikut merespons lewat pergeseran sentimen risiko.
Di saat yang sama, ada faktor lain yang membuat pelaku pasar tidak sepenuhnya “tenang”. Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti AS justru naik menjadi 3,0% dari 2,8%, tetap berada di atas target 2% bank sentral. Artinya, inflasi inti masih memberi tekanan tersendiri.
Selain data ekonomi, arah kebijakan perdagangan AS kembali mencuat. Presiden AS Donald Trump disebut mengancam akan mengenakan tarif 10% pada impor global selama 150 hari dengan merujuk Pasal 122 undang-undang perdagangan AS, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan rezim tarif sebelumnya yang lebih luas.
Situasi makin rumit ketika pemerintahannya kemudian menaikkan tarif menjadi 15%, yang disebut sebagai batas maksimum berdasarkan aturan tersebut. Perubahan cepat ini memunculkan kekhawatiran soal aksi balasan, potensi gangguan rantai pasok global, serta risiko ketidakpastian hukum dan politik di AS.
Dalam kondisi seperti itu, volatilitas pasar cenderung meningkat: sebagian investor mencari aset aman, sebagian lain menata ulang eksposur terhadap mata uang emerging market. Pada hari yang sama, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat menguat ke Rp16.818 per dolar AS dari Rp16.885 per dolar AS.
Meski rupiah menguat di awal, pelaku pasar tetap akan mencermati dua hal besar: seberapa konsisten data AS menunjukkan perlambatan, dan bagaimana kepastian implementasi tarif baru. Ketidakjelasan durasi dan cakupan kebijakan perdagangan, ditambah inflasi inti yang masih di atas target, kerap membuat arah pasar mudah berubah.
Bagi pelaku usaha dan masyarakat, pergerakan rupiah seperti ini biasanya menjadi sinyal penting untuk mengatur risiko kurs, terutama untuk kebutuhan impor, pembayaran utang valas, atau perencanaan biaya yang sensitif terhadap dolar. Pekan ini, sentimen global kembali menjadi “setir” utama arah rupiah.






