Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur atau Diskominfo Jatim mengambil langkah strategis untuk membentengi moral generasi muda di tengah gempuran teknologi.
Bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD, instansi tersebut menyelenggarakan sebuah agenda penting bertajuk sarasehan di Kabupaten Mojokerto.
Pertemuan ini secara khusus mengangkat tema Kearifan Lokal di Era Digital dengan target audiens utama para perempuan dan pengelola keluarga.
Upaya ini dipandang sangat krusial mengingat derasnya arus informasi yang masuk ke dalam ruang lingkup rumah tangga saat ini.
Dalam acara yang berlangsung di Bumi Majapahit tersebut, para pemateri menekankan bahwa keluarga adalah garda terdepan dalam membentuk jati diri seorang anak. Fenomena tren digital yang berkembang sangat cepat sering kali membuat nilai-nilai budaya lokal mulai terpinggirkan oleh gaya hidup instan. Oleh karena itu, Diskominfo Jatim merasa perlu memberikan panduan praktis bagi para ibu di Mojokerto agar tetap mampu menanamkan budi pekerti yang kuat.
Sarasehan ini tidak hanya menjadi ajang diskusi searah, tetapi juga ruang berbagi keresahan bagi para orang tua.
Banyak perempuan yang hadir mengeluhkan betapa sulitnya menjauhkan anak-anak dari ketergantungan pada gawai di kehidupan sehari-hari. Menanggapi hal tersebut, perwakilan DPRD Jatim yang hadir memberikan pandangan mengenai pentingnya regulasi diri di tingkat paling dasar, yaitu keluarga. Penguatan karakter anak dianggap sebagai investasi jangka panjang yang tidak bisa ditawar lagi di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Kearifan lokal Jawa Timur memiliki banyak sekali filosofi yang sebenarnya sangat relevan untuk menyaring dampak negatif internet.
Misalnya saja nilai gotong royong dan tata krama yang bisa diimplementasikan dalam cara berkomunikasi di media sosial.
Diskominfo Provinsi Jawa Timur ingin agar literasi digital tidak hanya dipahami secara teknis, tetapi juga secara etis dan budaya. Jika pondasi karakter sudah terbentuk dengan baik sejak dini, maka teknologi akan menjadi alat yang memberdayakan, bukan justru merusak.
Mojokerto dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena memiliki akar sejarah kearifan lokal yang sangat kuat di Jawa Timur.
Melalui sarasehan ini, diharapkan muncul kesadaran kolektif bahwa digitalisasi bukanlah ancaman asalkan kita memiliki prinsip yang teguh.
Para perempuan yang berperan sebagai ibu di rumah didorong untuk menjadi pendamping yang cerdas bagi anak-anak mereka saat berselancar di dunia maya. Keterlibatan DPRD dalam acara ini juga menunjukkan adanya dukungan legislatif terhadap program-program perlindungan anak dan keluarga di era modern.
Era digital memang menawarkan banyak kemudahan, namun di balik itu terdapat tantangan moral yang sangat besar.
Perubahan perilaku sosial anak-anak zaman sekarang sering kali menjadi perhatian serius bagi para pengamat pendidikan dan sosiolog. Diskominfo Jatim mencoba memberikan solusi dengan menghidupkan kembali tradisi-tradisi baik yang mulai luntur di tengah masyarakat. Dengan pendekatan kearifan lokal, materi yang disampaikan terasa lebih dekat dan mudah diterima oleh para ibu-ibu peserta sarasehan di Mojokerto tersebut.
Program penguatan karakter ini rencananya akan terus digulirkan ke berbagai daerah lain di wilayah Jawa Timur secara berkala.
Setiap daerah tentu memiliki keunikan budayanya masing-masing yang bisa dijadikan alat untuk melawan paparan radikalisme atau konten negatif lainnya.
Sinergi antara pemerintah provinsi dan wakil rakyat dalam kegiatan sarasehan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat. Kekuatan keluarga adalah kunci utama agar anak-anak tidak kehilangan arah di tengah hiruk-pikuk tren dunia maya yang tanpa batas.
Seorang peserta menyatakan bahwa kegiatan seperti ini sangat membantu dalam memberikan perspektif baru mengenai pola asuh anak.
Ilmu yang didapat dari sarasehan di Mojokerto diharapkan dapat disebarluaskan kembali kepada lingkungan tetangga atau komunitas pengajian setempat.
Semakin banyak perempuan yang teredukasi, maka semakin kuat pula pertahanan sosial masyarakat Jawa Timur menghadapi tantangan zaman. Diskominfo Jatim berkomitmen untuk terus menyediakan platform edukasi yang inklusif dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Pentingnya menjaga identitas bangsa di tengah kepungan budaya asing melalui gawai menjadi benang merah dalam setiap sesi diskusi.
Kearifan lokal Jawa merupakan warisan yang harus terus dipelihara sebagai identitas diri di hadapan masyarakat internasional. Kita tidak bisa melarang teknologi, namun kita bisa mengatur bagaimana teknologi itu berinteraksi dengan nilai-nilai kemanusiaan kita. Itulah poin utama yang ingin dicapai oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui kolaborasi strategis dengan pihak legislatif ini.
DPRD Jatim pun berjanji akan terus mengawal kebijakan-kebijakan yang pro pada ketahanan keluarga dan perlindungan anak dari dampak buruk digitalisasi.
Diskusi yang hangat di Mojokerto menjadi saksi bahwa masih banyak masyarakat yang peduli terhadap masa depan moral generasi penerus.
Karakter anak yang kuat akan menjadi modal utama bagi Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang dan bermartabat. Mari kita jadikan kearifan lokal sebagai kompas dalam menavigasi luasnya samudera informasi digital saat ini.
Kegiatan sarasehan ini ditutup dengan komitmen bersama untuk menciptakan keluarga digital yang harmonis dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur.
Keberhasilan acara ini akan dilihat dari perubahan pola interaksi di dalam rumah tangga para peserta yang telah mendapatkan pembekalan.
Literasi digital bukan hanya soal bisa menggunakan aplikasi, tapi soal bagaimana tetap menjadi manusia yang berbudaya di depan layar. Jawa Timur harus terus menjadi pionir dalam gerakan memperkuat karakter bangsa melalui jalur kebudayaan dan teknologi informasi yang terpadu.
Masa depan Jawa Timur ada di tangan anak-anak yang tumbuh dengan kasih sayang dan pemahaman nilai kearifan lokal yang mendalam.
Semoga inisiatif dari Diskominfo Jatim dan DPRD ini mampu memicu gerakan serupa di tingkat kabupaten atau kota lainnya.
Perjalanan menuju masyarakat digital yang berbudaya memang masih panjang, namun langkah awal di Mojokerto ini patut mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Kebaikan kearifan lokal adalah warisan abadi yang akan menjaga kita tetap membumi di tengah perkembangan dunia yang kian melangit.
Sinergi pemerintah dan masyarakat dalam sarasehan kearifan lokal di Mojokerto merupakan bentuk nyata cinta terhadap generasi masa depan Jawa Timur.






