Pasar otomotif global sedang menyaksikan pergeseran kekuatan yang luar biasa, terutama melalui strategi mobil listrik Mercedes-Benz dan Volkswagen di China. Sebagai pasar kendaraan listrik (EV) terbesar di dunia, China bukan lagi sekadar tempat berjualan bagi raksasa Jerman, melainkan medan tempur inovasi. Memasuki tahun 2026, Mercedes-Benz dan Volkswagen (VW) harus memutar otak karena penetrasi Kendaraan Energi Baru (NEV) di Negeri Tirai Bambu telah melampaui 50%.
Meskipun memiliki sejarah panjang, kedua jenama ini menghadapi tekanan berat dari produsen lokal seperti BYD dan Xiaomi. Oleh karena itu, mereka kini beralih dari model “ekspor teknologi” menjadi “pengembangan lokal untuk pasar global”. Artikel ini akan mengulas bagaimana kedua raksasa tersebut mencoba merebut kembali takhta mereka.
Mercedes-Benz, Fokus pada Kemewahan Digital dan Lokalisasi
Mercedes-Benz menyadari bahwa konsumen China tidak hanya mencari kenyamanan suspensi, tetapi juga kecanggihan perangkat lunak. Dalam strategi mobil listrik Mercedes-Benz dan Volkswagen di China, pabrikan berlambang bintang sudut tiga ini memilih jalur “Luxury First”.
Investasi Besar dan Model Khusus
Pada tahun 2025 dan 2026, Mercedes-Benz mengucurkan investasi lebih dari 14 miliar yuan untuk memperkuat lini produk lokalnya. Salah satu langkah konkretnya adalah peluncuran CLA listrik dengan wheelbase panjang yang dirancang khusus untuk selera konsumen China. Selain itu, mereka bekerja sama dengan perusahaan teknologi lokal seperti Momenta untuk menghadirkan sistem mengemudi otonom yang lebih adaptif dengan kondisi jalanan di Beijing atau Shanghai.
Menjaga Eksklusivitas di Kelas Atas
Meskipun penjualan unit secara keseluruhan mengalami fluktuasi, Mercedes tetap mendominasi segmen kendaraan di atas 1 juta RMB. Melalui model seperti Maybach GLS SUV dan S-Class terbaru, mereka mencoba membuktikan bahwa kemewahan sejati tetap memiliki tempat di hati konglomerat China, meskipun gempuran mobil listrik murah semakin masif.
Volkswagen, Kolaborasi dengan XPeng sebagai Kunci
Berbeda dengan Mercedes yang fokus pada segmen ultra-premium, Volkswagen mengambil langkah yang lebih pragmatis. Mereka sadar bahwa ketertinggalan dalam hal perangkat lunak dan sistem konektivitas harus segera dikejar.
Kemitraan Strategis dengan XPeng
Bagian paling menarik dari strategi mobil listrik Mercedes-Benz dan Volkswagen di China adalah kolaborasi VW dengan XPeng. Di tahun 2026, model pertama hasil kerja sama ini resmi memasuki produksi di Hefei. VW menggunakan platform dan arsitektur elektronik dari XPeng untuk memastikan mobil mereka memiliki sistem pengisian daya cepat 800V dan fitur smart cockpit yang setara dengan merek lokal.
Transformasi “China Main Platform” (CMP)
Volkswagen juga meluncurkan platform khusus bernama CMP (Compact Main Platform). Dengan platform ini, VW bertujuan menekan biaya produksi hingga 40% agar bisa bersaing harga dengan BYD. Target mereka jelas: meluncurkan lebih dari 30 model elektrik di China pada tahun 2027. Selain itu, mereka ingin memastikan bahwa setiap mobil yang dijual di China memiliki jiwa teknologi Shenzhen namun dengan kualitas produksi Wolfsburg.
Perang Harga dan Kebijakan Pajak
Namun, perjalanan ini tidaklah mudah. Pada awal 2026, pemerintah China mulai menerapkan pajak pembelian sebesar 5% untuk kendaraan energi baru, yang sebelumnya gratis. Hal ini membuat persaingan harga semakin berdarah-darah.
-
Persaingan Domestik: Merek seperti Aito (didukung Huawei) dan Li Auto terus menekan margin keuntungan pabrikan Jerman.
-
Kecepatan Inovasi: Siklus pengembangan mobil di China jauh lebih cepat (sekitar 24 bulan) dibandingkan standar Eropa (48-60 bulan).
-
Sentimen Konsumen: Generasi muda China mulai melihat merek lokal sebagai simbol status teknologi, bukan lagi sekadar alternatif murah.
Masa Depan Jerman di Tanah Naga
Kesuksesan strategi mobil listrik Mercedes-Benz dan Volkswagen di China akan sangat bergantung pada seberapa cepat mereka bisa bertransformasi menjadi perusahaan teknologi. Mercedes-Benz bertaruh pada kemewahan digital, sementara Volkswagen bertaruh pada efisiensi platform dan kemitraan lokal. Jika mereka gagal beradaptasi dengan kecepatan “China Speed”, dominasi Jerman di industri otomotif bisa menjadi sejarah.
Di sisi lain, jika mereka berhasil, China akan menjadi pusat riset dan pengembangan utama yang akan membawa teknologi masa depan ke pasar Eropa dan Amerika.






