Bencana longsor terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Bandung Barat dalam sepekan terakhir. Tiga desa tercatat terdampak, yakni Desa Pasirlangu, Desa Kertawangi di Kecamatan Cisarua, serta Desa Sukajaya di Kecamatan Lembang. Dari tiga lokasi tersebut, Pasirlangu disebut sebagai daerah dengan dampak paling parah, sementara Sukajaya juga menjadi perhatian karena terdapat laporan korban jiwa.
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat memastikan penanganan darurat dilakukan serentak di seluruh titik bencana. Fokus utama diarahkan pada evakuasi, penanganan warga terdampak, serta pemenuhan kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat. Pemerintah daerah juga menekankan bahwa penanganan tidak hanya berpusat pada satu titik, melainkan menyasar semua lokasi yang terdampak agar bantuan tidak timpang.
Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, meninjau langsung lokasi longsor di Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan proses penanggulangan berjalan optimal dan bantuan diterima warga yang membutuhkan. Dalam keterangannya, Asep Ismail menyebut korban jiwa akibat longsor tercatat terjadi di Kampung Sukadami, wilayah yang masuk dalam Desa Sukajaya.
Selain aspek evakuasi, pemerintah daerah juga memprioritaskan distribusi logistik. Bantuan kebutuhan pokok disalurkan melalui pemerintah desa agar pendataan dan pembagian dapat dilakukan lebih terarah. Asep Ismail menyampaikan pemerintah mengirimkan 1,5 ton beras serta 2 kuintal telur untuk membantu kebutuhan konsumsi warga terdampak.
Bantuan juga datang dari berbagai pihak. Sejumlah paket sembako dilaporkan disalurkan melalui koordinasi pemerintah desa, termasuk dukungan dari Baznas dan pihak pemerintah daerah. Pemerintah menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi berbagai pihak yang ikut membantu, karena kondisi bencana membutuhkan kerja sama luas agar penanganan lebih cepat.
Di sisi lain, Pemkab Bandung Barat menegaskan penanganan bencana tidak berhenti pada bantuan darurat. Pemerintah daerah akan menindaklanjuti langkah penanganan berdasarkan kajian dan rekomendasi tim geologi. Hasil kajian tersebut dibutuhkan untuk menentukan tindakan lanjutan, termasuk mitigasi risiko agar bencana serupa tidak berulang, terutama pada wilayah yang memiliki potensi pergerakan tanah.
Pemerintah daerah juga menyampaikan permohonan maaf bila masih terdapat kekurangan dalam proses penanganan di lapangan. Namun, Pemkab menegaskan akan memaksimalkan sumber daya yang tersedia agar setiap titik bencana memperoleh penanganan secepat mungkin dan kebutuhan warga terdampak dapat dipenuhi secara bertahap.






